Ironi Desa Penghasil Gas: Warga Miskin Bandungrejo Tercekik Harga, Pilih Putus Sambungan

Warga Desa Penghasil Gas di Ngasem Terpaksa Putus Sambungan karena Tarif Dinilai Terlalu Mahal

banner 400x130

Newsbojonegoro.com | Bojonegoro – Di balik melimpahnya sumber daya gas di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, tersimpan ironi yang menyayat. Warga miskin di desa penghasil energi itu justru tak mampu menikmati hasil buminya sendiri.

Alih-alih sejahtera, sebagian warga mengaku tercekik biaya penggunaan gas rumah tangga yang dinilai terlalu mahal dan tidak sebanding dengan kondisi ekonomi mereka.

Suparti, salah satu warga, mengungkapkan beban yang harus ditanggung setiap bulan. Menurutnya, tagihan gas menjadi pengeluaran yang sulit dipenuhi, bahkan untuk kebutuhan dasar saja sudah terasa berat.

“Untuk makan sehari-hari saja sudah susah, apalagi harus bayar gas mahal,” keluhnya.

Ia menjelaskan, tarif gas yang dikenakan tidak bersubsidi dan disesuaikan dengan daya listrik yang terpasang di rumah. Artinya, warga dengan listrik non-subsidi otomatis dikenakan tarif gas lebih tinggi.

“Bayarnya disesuaikan dengan listrik. Kalau listrik tidak subsidi, gasnya juga ikut mahal,” ujarnya dengan nada kecewa.

Kondisi tersebut membuat Suparti dan sejumlah warga lainnya terpaksa mengambil langkah pahit: memutus sambungan gas rumah tangga dan kembali menggunakan bahan bakar alternatif yang lebih terjangkau, meski tidak sepraktis sebelumnya.

Fenomena ini memunculkan tanda tanya besar terhadap efektivitas program distribusi gas rumah tangga, khususnya di wilayah penghasil seperti Bandungrejo. Harapan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal justru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.

Potret ketimpangan semakin terlihat dari kondisi fisik permukiman warga. Sebagian rumah masih berdinding kayu dan jauh dari kata layak, mempertegas bahwa manfaat eksploitasi sumber daya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat sekitar.

Deretan rumah sederhana milik warga Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, yang berada di kawasan penghasil gas bumi. Kondisi bangunan yang masih didominasi material kayu dan tampak sederhana menjadi potret nyata kehidupan masyarakat di sekitar sumber energi

Hingga kini, warga berharap ada perhatian serius dari pihak terkait. Kebijakan yang lebih berpihak dinilai mendesak, agar kekayaan alam di wilayah mereka tidak hanya dinikmati segelintir pihak, tetapi juga benar-benar dirasakan oleh masyarakat setempat.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *