Newsbojonegoro.com | Bojonegoro — Belum rampungnya pembangunan jembatan di Desa Padangmentoyo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, berdampak langsung pada aktivitas warga, terutama anak-anak sekolah yang terpaksa memutar lebih dari satu kilometer setiap hari.
Jembatan yang seharusnya menjadi akses penghubung utama itu hingga kini belum juga selesai. Kondisi ini membuat mobilitas warga terganggu dan memicu keluhan.
Pantauan awak media di lokasi, progres pembangunan jembatan diperkirakan baru mencapai sekitar 60 persen. Ironisnya, tidak terlihat adanya aktivitas pekerja di lokasi proyek. Jumat (17/4/2026).
Selain itu, tidak ditemukannya papan informasi kegiatan juga membuat warga kebingungan, khususnya terkait kapan target pengerjaan jembatan tersebut akan diselesaikan.
“Iya, anak-anak kalau mau sekolah harus muter, lebih dari satu kilo karena tidak ada jembatan darurat. Kalau mau belanja sembako juga muter. Apalagi kalau malam, kalau butuh mendadak jadi sangat kesulitan,” ujar seorang warga perempuan.

Warga menilai lambannya pengerjaan proyek menunjukkan minimnya pengawasan. Mereka mempertanyakan keseriusan pihak terkait dalam menyelesaikan pembangunan yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
“Ini jembatan yang dananya cair pertengahan 2025, tapi sampai sekarang masih seperti ini. Sepertinya tidak ada pengawasan,” ungkap warga lainnya.
Jembatan tersebut berada di wilayah RT 02 RW 01 Desa Padangmentoyo, sekitar 150 meter di timur Kolam Renang Mahadewi dan kurang lebih 350 meter di selatan Masjid Padang.
Sementara itu, Tim Pelaksana Kegiatan (Timlak) menyampaikan bahwa anggaran sebesar Rp241 juta hanya digunakan untuk pondasi dan tiang jembatan.
“Anggaran itu hanya untuk pondasi dan tiangnya saja, bukan keseluruhan jembatan,” jelasnya.
Timlak juga menyebut kondisi sungai yang pasang surut menjadi salah satu penyebab keterlambatan pengerjaan. Bahkan, ia mengakui proyek tersebut berpotensi mangkrak.
“Karena sungai pasang surut, pengerjaan jadi molor. Kalau dibilang terancam mangkrak, ya memang ada potensi ke arah sana,” ujarnya.
Namun, Kepala Desa Padangmentoyo, Hadi Winarno menyampaikan alasan berbeda. Ia menyebut keterlambatan terjadi karena tenaga kerja yang mogok.
“Sebenarnya sudah kita kebut, tapi tukangnya mogok, tidak mau melanjutkan pekerjaan,” terangnya.
Terkait papan informasi yang tidak ada di lokasi, Kepala Desa berdalih papan tersebut hanyut terbawa arus sungai saat banjir.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan jembatan tersebut akan kembali di kerjakan dan kapan rampung, sementara anak-anak sekolah dan warga lainnya masih harus menghadapi akses yang memutar setiap hari.












