Hoaks! Fenomena Aphelion Tak Sebabkan Cuaca Dingin Ekstrem dan Flu di Bojonegoro

banner 400x130

News Bojonegoro – Bojonegoro, Juli 2025 – Sejumlah pesan berantai kembali beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa mulai 5 Juli 2025 pukul 05.27 WIB, Bumi akan mengalami fenomena Aphelion—yakni saat posisi Bumi berada paling jauh dari Matahari. Dalam narasi tersebut disebutkan, fenomena ini akan membuat suhu udara lebih dingin dari biasanya hingga Agustus, dan bisa memicu flu, batuk, serta sesak napas.

Namun, informasi tersebut tidak benar dan termasuk hoaks. Klarifikasi dari sejumlah sumber resmi menunjukkan bahwa fenomena Aphelion tidak berdampak signifikan terhadap cuaca maupun kesehatan manusia.

 

Penjelasan Ilmiah:

1. Aphelion bukan fenomena luar biasa, karena terjadi setiap tahun sekitar awal Juli. Tahun ini, Aphelion terjadi pada 3 Juli 2025 pukul 19.55 UTC atau sekitar pukul 02.55 WIB pada 4 Juli, sebagaimana dilansir dari laman astronomi Timeanddate.com.

2. Jarak Bumi dari Matahari saat Aphelion adalah sekitar 152,1 juta km, meningkat dari rata-rata jarak saat perihelion (147,1 juta km). Peningkatannya hanya sekitar 3–4%, bukan 66% seperti yang disebutkan dalam pesan viral.

3. Orbit Bumi hampir bulat, bukan lonjong ekstrem. Akibatnya, perubahan intensitas sinar matahari dari perihelion ke aphelion hanya sekitar 6,5%—tidak cukup besar untuk menyebabkan perubahan suhu drastis di Bumi (CNN Indonesia).

4. Musim dan suhu tidak ditentukan oleh jarak Bumi ke Matahari, melainkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi. Hal ini yang membuat wilayah seperti Indonesia tidak terdampak langsung oleh Aphelion. Bahkan saat Aphelion terjadi, belahan Bumi utara justru sedang mengalami musim panas (Kompas.com).

5. BMKG dan LAPAN menegaskan bahwa suhu dingin yang dirasakan di beberapa wilayah Indonesia saat ini bukan karena Aphelion, melainkan dampak musim kemarau, yang biasa terjadi antara bulan Juni–Agustus. Faktor utama penyebab suhu dingin adalah aliran massa udara dingin-kering dari Australia serta minimnya tutupan awan yang menyebabkan penurunan suhu pada malam hari (Turnbackhoax.id).

Klarifikasi Resmi

Dalam keterangannya, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut bahwa informasi soal Aphelion berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat adalah tidak berdasar dan menyesatkan.

“Aphelion adalah fenomena astronomis tahunan yang tidak berdampak langsung pada cuaca maupun suhu ekstrem di Indonesia,” jelas LAPAN, dikutip dari artikel cek fakta Kompas.com (9 Juli 2024).

Sementara itu, BMKG menambahkan bahwa suhu udara yang lebih dingin akhir-akhir ini memang umum terjadi saat musim kemarau, terutama di daerah dataran tinggi dan pegunungan di Pulau Jawa, karena radiasi malam hari tidak tertahan awan, membuat suhu turun drastis di pagi hari.

Kesimpulan:

Klaim yang menyebut Aphelion menyebabkan suhu ekstrem dingin hingga Agustus, serta berdampak pada kesehatan masyarakat adalah tidak benar dan termasuk hoaks. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan tetap menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat: makan bergizi, istirahat cukup, serta rutin berolahraga.

 

 Sumber:

Time and Date: Perihelion & Aphelion Dates

Kompas.com: Cek Fakta Hoaks Aphelion Picu Dingin dan Flu

CNN Indonesia: Fakta Fenomena Aphelion

TurnBackHoax.id: Hoaks Fenomena Aphelion

LAPAN & BMKG melalui siaran pers dan wawancara media

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *