NewsBojonegoro.com | Bojonegoro – Memasuki musim kemarau 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus mengintensifkan penanganan krisis air bersih di sejumlah wilayah. Selain mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak, pemerintah juga menyiapkan berbagai strategi jangka panjang guna mengurangi jumlah desa yang mengalami kekeringan setiap tahunnya.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menunjukkan hingga akhir Juli 2026 telah didistribusikan 76 tangki air bersih ke desa-desa yang mengalami kesulitan memperoleh air. Penyaluran dilakukan berdasarkan permohonan pemerintah desa yang dilanjutkan dengan asesmen di lapangan agar bantuan tepat sasaran.
Pada tahap awal, bantuan air bersih disalurkan ke Desa Deru, Wotan, dan Sumberharjo di Kecamatan Sumberrejo, Desa Sumberejokidul di Kecamatan Sukosewu, Desa Sugihwaras dan Luwihaji di Kecamatan Ngraho, Desa Nglampin di Kecamatan Ngambon, serta Desa Papringan di Kecamatan Temayang. Jika mengacu pada kapasitas rata-rata satu mobil tangki sekitar 4.000 liter, maka diperkirakan lebih dari 304 ribu liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat, meski BPBD belum merilis angka resmi total volume distribusi.
Baca Juga: Pemkab Bojonegoro Perkuat Upaya Pengentasan ATS, 5.199 Anak Jadi Sasaran
Di sisi lain, BPBD juga memetakan 93 desa di 24 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau 2026. Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 106 desa, menunjukkan adanya perbaikan akses air bersih di sejumlah wilayah meskipun ancaman kekeringan masih menjadi perhatian.
Namun, penanganan Pemkab Bojonegoro tidak berhenti pada distribusi air bersih. Pemerintah daerah juga menjalankan berbagai program yang ditujukan sebagai solusi jangka panjang agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan dropping air setiap musim kemarau.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA), Pemkab Bojonegoro terus mengembangkan pembangunan embung dan tampungan air di wilayah rawan kekeringan. Infrastruktur tersebut diproyeksikan mampu menyimpan cadangan air saat musim hujan sehingga dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau tiba.
Selain itu, pemerintah melakukan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi secara berkala. Pada Tahun Anggaran 2026, Dinas PU SDA mengalokasikan sekitar Rp669,6 juta untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi yang melayani sekitar 17.000 hektare lahan pertanian. Langkah tersebut dilakukan agar distribusi air tetap optimal dan mampu menopang produktivitas pertanian di tengah musim kemarau.
Perbaikan juga dilakukan pada sejumlah daerah irigasi, di antaranya Daerah Irigasi (DI) Sumberarum di Kecamatan Ngraho, evaluasi distribusi air di wilayah Sumberrejo, Kepohbaru, dan Baureno, serta penanganan sedimentasi pada jaringan irigasi. Pemerintah juga merencanakan penambahan tampungan air di kawasan Sumberrejo dan sekitar Bendung Mekuris guna memperkuat cadangan air pada musim kemarau berikutnya.
Baca Juga: Bantah Banjep Rp50 Juta, Kuasa Hukum Kades Mulyorejo Siap Laporkan Balik Pengadu
Upaya tersebut menjadi penting mengingat Dinas PU SDA memperkirakan sekitar 10.000 hektare lahan pertanian berpotensi terdampak apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Dengan pengelolaan sumber daya air yang lebih baik, pemerintah berharap produktivitas pertanian tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko gagal panen.
Selain pembangunan fisik, edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat juga terus dilakukan melalui kolaborasi BPBD dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan pemerintah desa. Edukasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau yang datang setiap tahun.
Kombinasi antara penanganan darurat melalui distribusi air bersih dan pembangunan infrastruktur sumber daya air menjadi strategi Pemkab Bojonegoro dalam memperkuat ketahanan air daerah. Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap jumlah desa yang mengalami kekeringan dapat terus berkurang dari tahun ke tahun, sekaligus memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dan sektor pertanian tetap terpenuhi meski musim kemarau berlangsung cukup panjang.
















