SAPA Ngasem Jadi Etalase Inovasi: Kepemimpinan Iwan Sopian Mengubah Wajah Pelayanan dan Pemberdayaan Masyarakat

Desa & Budaya, Tokoh492 Dilihat
banner 400x130

News Bojonegoro — Pemerintah Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, di bawah kepemimpinan Iwan Sopian, terus mencatatkan berbagai capaian dalam bidang pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan lingkungan, serta inovasi tata kelola pemerintahan. Berbagai program yang dijalankan menunjukkan pendekatan pelayanan yang langsung menyentuh masyarakat, berbasis kebutuhan riil, serta dijalankan secara efisien tanpa pemborosan anggaran.

Salah satu program yang menonjol adalah SAPA Ngasem (Wisata Ahad Pagi), sebuah kegiatan bulanan yang berkembang tidak hanya sebagai ruang publik, tetapi juga sebagai pusat pelayanan pemerintahan yang dibuka langsung di tengah masyarakat.

SAPA Ngasem berawal dari aspirasi pelaku UMKM di wilayah Ngasem yang mengeluhkan keterbatasan akses pemasaran. Pada tahap awal, Camat Ngasem membantu promosi produk UMKM melalui media sosial. Seiring meningkatnya respons masyarakat, muncul gagasan untuk menghadirkan ruang publik yang dapat menjadi pasar UMKM sekaligus wadah interaksi warga.

Namun sebelum diterapkan, pemerintah kecamatan melakukan koordinasi dengan para kepala desa. Dari hasil komunikasi tersebut diketahui bahwa Minggu Wage telah lama menjadi hari kegiatan rutin masyarakat, khususnya kegiatan keagamaan. Agar inovasi yang dilakukan tidak mengganggu tatanan sosial yang sudah berjalan, dipilihlah Minggu Legi sebagai waktu pelaksanaan. SAPA Ngasem kemudian ditetapkan berlangsung sebulan sekali.

Dalam setiap pelaksanaan SAPA Ngasem, 30 hingga 50 pelaku UMKM dari berbagai desa difasilitasi berjualan di satu lokasi. Produk yang dipasarkan meliputi kuliner rumahan, jajanan tradisional, hasil olahan pertanian, hingga kerajinan lokal. Kegiatan ini dihadiri ratusan warga, menjadikannya sebagai salah satu ruang interaksi sosial terbesar di tingkat kecamatan.

SAPA Ngasem juga melibatkan sekolah-sekolah di wilayah Ngasem. Pemerintah kecamatan mengirimkan surat resmi kepada sekolah agar siswa yang memiliki bakat seni dapat tampil. Anak-anak sekolah diberi ruang menampilkan tari dan kesenian, sementara masyarakat mendapatkan hiburan yang edukatif. Kegiatan diawali dengan senam bersama, yang sekaligus menjadi sarana sosialisasi gaya hidup sehat.

Atas pendekatan partisipatif tersebut, SAPA Ngasem mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan ditetapkan sebagai inovasi resmi Kecamatan Ngasem.

Keunikan utama SAPA Ngasem terletak pada kebijakan membuka pelayanan pemerintahan langsung di lokasi kegiatan. Warga yang hadir tidak hanya berbelanja atau mengikuti hiburan, tetapi juga dapat mengurus surat-menyurat dan berbagai keperluan administrasi tanpa harus datang ke kantor kecamatan.

Dalam pelaksanaannya, Kecamatan Ngasem bekerja sama dengan berbagai pihak, antara lain Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, yang membuka layanan pembuatan dan pembaruan KTP elektronik, Identitas Kependudukan Digital (IKD), serta Kartu Identitas Anak (KIA). Selain itu, layanan perpustakaan keliling dihadirkan untuk anak-anak, pemerintah desa dilibatkan dalam menggerakkan UMKM, dan sekolah-sekolah berperan dalam pengisian kegiatan seni.

SAPA Ngasem kami rancang sebagai ruang bersama. Pemerintah hadir di tengah masyarakat, dan pelayanan dibuka langsung supaya warga tidak perlu bolak-balik ke kantor kecamatan,” ujar Iwan Sopian.

Untuk memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga, Kecamatan Ngasem menerapkan sistem penilaian pelayanan berbasis barcode. Setiap warga yang telah menerima layanan, baik di kantor kecamatan maupun saat pelayanan dibuka di SAPA Ngasem, dapat memindai barcode untuk memberikan penilaian terkait keramahan petugas, kecepatan pelayanan, dan kemudahan prosedur.

Pelayanan itu harus dinilai langsung oleh masyarakat. Dari situ kami tahu apa yang perlu diperbaiki,” tegasnya.

Pendekatan tersebut berdampak nyata. Kecamatan Ngasem mencatat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) sebesar 97,46 dengan predikat Sangat Baik, menempatkannya sebagai salah satu unit pelayanan publik dengan tingkat kepuasan tertinggi.

Selain SAPA Ngasem, Camat Iwan Sopian juga menggagas program menabung sampah untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Program ini berdiri terpisah dari SAPA Ngasem dan dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan sampah dan kepatuhan pembayaran pajak.

Melalui program ini, masyarakat tidak perlu membayar PBB dengan uang, melainkan dengan menyetorkan sampah rumah tangga. Sampah yang dikumpulkan dikonversi menjadi nilai tabungan dan digunakan untuk melunasi kewajiban PBB.

Sampah organik diolah menjadi media budidaya maggot, sementara sampah plastik, khususnya kresek, diolah menjadi bahan bakar alternatif menggunakan mesin pirolisis yang dimiliki Kecamatan Ngasem. Program ini dijalankan melalui skema bank sampah yang difasilitasi kecamatan dan dikolaborasikan dengan dinas terkait serta pihak swasta.

“Kami ingin kewajiban pajak tidak menjadi beban. Sampah yang selama ini dianggap masalah justru bisa dimanfaatkan untuk membayar PBB,” kata Iwan.

Program tersebut diperkuat dengan inovasi Si Imut My Darling, yakni sistem integrasi pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Melalui inovasi ini, pengelolaan sampah dijalankan dengan sistem sederhana yang mudah dipahami dan dilaksanakan warga.

Atas inovasi Si Imut My Darling, Kecamatan Ngasem meraih penghargaan Harapan II dalam ajang inovasi daerah. Dalam ajang tersebut, Ngasem menjadi satu-satunya kecamatan yang tidak menggunakan sistem berbasis aplikasi digital.

“Tidak semua inovasi harus berbasis aplikasi. Kalau dipaksakan justru bisa boros anggaran. Kami memilih sistem yang sederhana, murah, dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” tegas Iwan Sopian.

Pendekatan non-aplikatif ini dinilai efektif karena tidak menambah beban anggaran, tidak membutuhkan biaya pemeliharaan sistem, dan mudah direplikasi oleh masyarakat.

Di bidang pertanian, Kecamatan Ngasem juga mulai mengimplementasikan program Petani Milenial, sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. Lahan percontohan disiapkan di belakang Kantor Kecamatan Ngasem dan difungsikan sebagai ruang belajar pertanian modern bagi generasi muda.

Program ini diarahkan untuk mengenalkan pertanian yang produktif, berorientasi nilai tambah, serta berkelanjutan. Keberadaan lokasi percontohan di pusat pemerintahan kecamatan dimaksudkan agar mudah diakses dan menjadi simbol bahwa sektor pertanian merupakan bagian penting dari masa depan daerah.

Kalau anak muda tidak mulai dikenalkan dengan pertanian sekarang, ke depan kita bisa kekurangan petani. Ini investasi jangka panjang,” ujar Iwan.

Selain pelayanan, lingkungan, dan pertanian, Camat Ngasem juga dikenal konsisten menjaga nilai budaya. Ia secara rutin memimpin prosesi Pengambilan Api Abadi di Khayangan Api, Sendangharjo, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Bojonegoro. Hal tersebut menegaskan bahwa inovasi pemerintahan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi.

Secara keseluruhan, kepemimpinan Iwan Sopian di Kecamatan Ngasem ditandai oleh sejumlah capaian utama: pelayanan publik yang dibuka langsung di ruang publik, tingginya kepuasan masyarakat, inovasi pengelolaan sampah yang berdampak langsung, pembayaran PBB tanpa uang, penghargaan inovasi daerah, pendekatan tanpa aplikasi untuk mencegah pemborosan anggaran, serta penguatan regenerasi pertanian melalui Petani Milenial.

Model yang dijalankan di Ngasem menunjukkan bahwa inovasi pemerintahan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal atau sistem rumit. Dengan pendekatan yang tepat, berbasis kebutuhan warga, serta kepemimpinan yang konsisten, inovasi justru dapat tumbuh dari tingkat paling dekat dengan masyarakat

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *