Polemik Menu Kering MBG Ramadan, Komisi C DPRD Bojonegoro Undang SPPG se-Kabupaten

DPRD minta komposisi menu Makan Bergizi Gratis selama Ramadan tetap memenuhi standar gizi dan memperhatikan ketahanan makanan

banner 400x130

News Bojonegoro – DPRD Kabupaten Bojonegoro menggelar audiensi untuk mengevaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah muncul berbagai keluhan masyarakat terkait kualitas menu yang disajikan selama bulan Ramadan.

Audiensi tersebut digelar di Ruang Badan Anggaran DPRD Bojonegoro, Rabu (4/3/2026), dengan menghadirkan sejumlah instansi terkait guna membahas perbaikan komposisi menu MBG agar tetap memenuhi kebutuhan gizi siswa selama menjalankan ibadah puasa.

Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Bojonegoro, kepala SPPG se-Kabupaten Bojonegoro, serta Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Bojonegoro.

Audiensi dipimpin oleh Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto. Turut hadir Ketua DPRD Bojonegoro Abdulah Umar, anggota Komisi C Suprapto dan Natasha Devianti, serta Kepala Satgas MBG Bojonegoro Ninik Sumiati.

Dalam forum tersebut, DPRD meminta agar menu MBG selama Ramadan tetap memperhatikan kecukupan gizi, sekaligus menyesuaikan waktu konsumsi bagi siswa yang menjalankan puasa. Koordinasi antara dinas terkait dan penyedia layanan gizi juga diharapkan semakin diperkuat agar pelaksanaan program berjalan optimal.

Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto mengatakan rapat kerja tersebut merupakan tindak lanjut dari berbagai kritik dan aduan masyarakat terkait menu MBG selama Ramadan.

“Audiensi atau rapat kerja hari ini merupakan tindak lanjut dari saran, masukan, dan kritik masyarakat terkait menu Makan Bergizi Gratis selama bulan Ramadan,” ujarnya.

Menurutnya, evaluasi ini penting dilakukan agar program prioritas Presiden Prabowo Subianto dapat berjalan baik di daerah. Ia menilai program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan efek ekonomi bagi daerah.

“Program ini memiliki multiplier effect yang cukup besar. Secara tidak langsung dapat membantu mengurangi angka pengangguran sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Meski merupakan program pemerintah pusat, Ahmad Supriyanto menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menyukseskan program tersebut.

Ia juga meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat terkait besaran anggaran MBG. Menurutnya, anggaran per porsi tidak sebesar Rp15 ribu seperti yang banyak dipersepsikan.

“Untuk porsinya sekitar Rp8 ribu untuk porsi kecil dan Rp10 ribu untuk porsi besar. Ini penting disampaikan agar masyarakat memahami skema program ini secara utuh,” jelasnya.

Dalam audiensi tersebut, Persagi Bojonegoro juga menyampaikan sejumlah catatan terkait pelaksanaan program MBG di lapangan, khususnya dalam penyusunan menu oleh SPPG.

Persagi menegaskan bahwa menu MBG seharusnya memenuhi komposisi gizi seimbang yang terdiri dari empat komponen utama, yakni makanan pokok, protein hewani, protein nabati, dan buah.

Namun berdasarkan pengamatan di lapangan, masih terdapat penyedia makanan yang memilih cara praktis dalam menyusun menu, misalnya dengan menyajikan telur rebus hampir setiap hari sebagai sumber protein hewani.

Selain itu, Persagi juga menyoroti pemilihan bahan makanan yang belum sepenuhnya memperhatikan ketahanan makanan (holding time). Makanan basah umumnya hanya memiliki daya tahan sekitar enam jam, sedangkan makanan kering dapat bertahan hingga lebih dari 12 jam.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *