News Bojonegoro – Pasca penutupan sementara operasional PT Sata Tec Indonesia (STI) di Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, ratusan karyawan terpaksa dirumahkan. Situasi ini memunculkan keprihatinan di kalangan pekerja yang menggantungkan penghidupan mereka di perusahaan pengolahan batang tembakau tersebut.
Para pekerja berharap perusahaan dapat segera beroperasi kembali, mengingat pekerjaan tersebut menjadi tumpuan ekonomi bagi mereka dan keluarganya. Penutupan sementara ini juga memicu reaksi dari warga yang meminta kejelasan serta solusi yang adil bagi semua pihak.
Kepala Desa Sukowati, Amik Rohadi, mengaku memahami keresahan para karyawan yang saat ini harus berhenti sementara dari pekerjaannya. Ia meminta para pekerja dan warga tetap bersabar dan menahan diri, sembari menunggu proses perizinan PT Sata Tec Indonesia yang sedang dalam tahap penyelesaian.
“Saya tahu persis bagaimana kondisi para pekerja saat ini. Mereka hanya ingin bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya. Saya minta semua tetap tenang dan menahan diri. Mari kita tunggu proses perizinan ini selesai,” ujar Amik Rohadi, Sabtu (14/6/2025).
Amik juga menegaskan bahwa sejak awal keberadaan PT Sata Tec Indonesia memberikan manfaat bagi warga Desa Sukowati, baik dalam hal ekonomi maupun kesempatan kerja. Ia berharap permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan musyawarah dan keterbukaan semua pihak.
“Perusahaan ini sejak awal hadir membawa manfaat. Kita perlu memikirkan bersama dampaknya, baik sisi positif maupun yang perlu diperbaiki. Yang penting, semua pihak duduk bersama dan mencari solusi, jangan sampai ada yang dirugikan,” tegasnya.
Menurut Amik, pemerintah desa selalu terbuka dan siap menjadi jembatan komunikasi antara warga, perusahaan, dan pemerintah daerah agar polemik ini segera terselesaikan dengan cara yang baik dan damai.
Terkait wacana pemindahan sekolah yang berdekatan dengan pabrik, Amik menyatakan bahwa pemerintah desa mendukung setiap keputusan yang diambil pemerintah daerah demi kenyamanan bersama. Namun, ia berharap perusahaan juga ikut bertanggung jawab dalam mencarikan solusi.
“Kalau memang sekolah harus dipindah, kami siap mendukung. Tapi perusahaan juga harus hadir dan ikut memikirkan solusinya, jangan dibebankan sepenuhnya ke desa,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Amik Rohadi menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah menjaga kondusivitas lingkungan dan memperjuangkan agar para pekerja dapat segera kembali bekerja.
“Yang paling penting sekarang adalah bagaimana para pekerja ini bisa kembali bekerja dengan tenang, dan semua pihak mendapatkan solusi terbaik. Saya berharap semua warga tetap menjaga keamanan dan ketertiban desa kita,” pungkasnya.





















