Dorong Kesadaran Lingkungan dan Pajak, Camat Ngasem Gagas Bayar PBB dengan Sampah

Inovasi pembayaran PBB berbasis tabungan sampah diimplementasikan bersama Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan Desa Sendangharjo

banner 400x130

News Bojonegoro — Alih-alih sekadar menagih pajak, Camat Ngasem Iwan Sopian, S.T., M.M. memilih pendekatan berbeda. Ia menggagas terobosan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) melalui tabungan sampah, sebuah kebijakan yang memadukan kepedulian lingkungan dengan peningkatan kesadaran pajak masyarakat.

Gagasan tersebut kemudian diimplementasikan melalui kerja sama dengan Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSM-KH) Desa Sendangharjo, yang selama ini dikenal konsisten mengelola limbah domestik berbasis partisipasi warga.

Menurut Iwan Sopian, kebijakan ini berangkat dari pandangan bahwa pelayanan publik harus menyentuh kebutuhan sehari-hari masyarakat agar dapat berjalan berkelanjutan. Sampah rumah tangga yang sebelumnya dipandang sebagai masalah, diarahkan menjadi aset ekonomi yang memberi manfaat langsung.

“Kami mendorong agar sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga bisa menjadi solusi. Salah satunya melalui mekanisme tabungan sampah yang dapat dimanfaatkan warga untuk membayar PBB,” ujar Iwan.

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaannya BSM-KH secara konsisten mengembangkan berbagai program pengelolaan limbah domestik. Salah satu inovasi awal yang sejalan dengan gagasan tersebut adalah program Si TAPA (Sistem Tabungan Sampah), yakni sistem tabungan sampah yang memungkinkan warga menabung hasil pilahan sampah dan memanfaatkannya untuk membayar PBB. Program ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai ekonomis sampah.

Pengembangan program berlanjut pada 2022 dengan diluncurkannya ProBiosik, yakni pengolahan sampah organik menggunakan metode Black Soldier Fly yang terintegrasi dengan ikan, maggot, unggas, dan tanaman (IMUT). Program ini bahkan ditetapkan sebagai percontohan pengelolaan sampah organik di Kabupaten Bojonegoro.

Pada 2023, BSM-KH kembali memperkuat inovasi melalui program Si Imut My Darling, yang tidak hanya mengembangkan sistem integrasi IMUT, tetapi juga membentuk kelompok budidaya ikan Mina Jaya. Hingga kini, kelompok tersebut telah memiliki 13 peternak dengan media budidaya lele aktif. Setahun berikutnya, pada 2024, BSM-KH menghadirkan program Si Faspol, yakni pengolahan sampah plastik bernilai ekonomi rendah menjadi bahan bakar alternatif (BBA) menggunakan teknologi mesin fast pyrolysis generasi kelima.

Memasuki 2025, BSM-KH merancang pengolahan sampah pertanian yang diintegrasikan dengan sektor peternakan sebagai bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan. Sementara pada 2026, BSM-KH menargetkan peluncuran Gerakan KURASAKI (Kurangi Sampah Kita) melalui pendampingan lembaga pendidikan dengan mendirikan Bank Sampah Sekolah yang terintegrasi dengan bank sampah masyarakat. Program ini sekaligus mendukung Sekolah dan Madrasah Adiwiyata serta pembentukan perkumpulan peduli lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, LINGKUPMAS.

Atas konsistensinya, BSM-KH telah menerima berbagai penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, serta apresiasi dari media regional. Lembaga ini juga kerap menjadi rujukan studi banding dan lokasi magang siswa SMK di wilayah Ngasem.

Melalui kebijakan pembayaran PBB berbasis tabungan sampah tersebut, Iwan Sopian menegaskan komitmennya menghadirkan pelayanan publik yang solutif, partisipatif, dan berpihak pada keberlanjutan lingkungan. Ia berharap inovasi ini dapat direplikasi di desa-desa lain sehingga manfaat kebersihan lingkungan dan kesadaran pajak dapat tumbuh secara bersamaan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *