Jejak Kehidupan Sriyadi Purnomo: Dari Keterbatasan Menuju Pengabdian dan Kemandirian

Ketika Keterbatasan Mengajarkan Keikhlasan, dan Sedekah Menjadi Jalan Hidup Seorang Sriyadi Purnomo

Serba Serbi, Tokoh1098 Dilihat
banner 400x130

Catatan Redaksi

Setiap perjalanan hidup menyimpan nilai yang lahir dari proses panjang, keterbatasan, dan keteguhan hati. Kisah ini merekam jejak hidup Sriyadi Purnomo, sejak masa kecil yang penuh keterbatasan hingga perjalanan panjangnya menapaki dunia usaha dan gerakan koperasi.
Sriyadi Purnomo dikenal sebagai tokoh koperasi sekaligus pelaku usaha asal Kabupaten Bojonegoro yang konsisten mengabdikan diri pada penguatan ekonomi kerakyatan, khususnya melalui koperasi dan usaha berbasis masyarakat. Ia menyandang gelar Dr. H. Sriyadi Purnomo, S.E., M.M., yang mencerminkan perpaduan antara latar belakang akademik dan pengalaman panjang di dunia usaha serta organisasi ekonomi rakyat.

Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (DEKOPINDA) Kabupaten Bojonegoro periode 2025–2030. Dalam peran tersebut, Sriyadi aktif mendorong modernisasi koperasi, penguatan tata kelola, serta peningkatan daya saing agar koperasi mampu menjadi pilar utama perekonomian daerah.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai Direktur/Pimpinan Koperasi KAREB (Koperasi Karyawan Redrying) Bojonegoro, koperasi yang bergerak di sektor industri tembakau dan menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal dengan melibatkan banyak tenaga kerja serta mitra usaha di tingkat akar rumput. Kiprahnya turut diperkuat dengan keterlibatan aktif dalam berbagai asosiasi dan komunitas pengusaha, termasuk pendampingan terhadap Mitra Produksi Sigaret (MPS) di wilayah Bojonegoro.

Peran Sriyadi Purnomo kerap terlihat dalam advokasi kebijakan cukai, perlindungan tenaga kerja, serta upaya menjaga keberlanjutan industri hasil tembakau berbasis koperasi. Di luar aktivitas organisasi, ia juga merupakan pelaku usaha yang mengembangkan unit-unit bisnis lokal dengan berlandaskan prinsip kemandirian, gotong royong, dan keberpihakan pada masyarakat kecil.

Dengan kombinasi latar belakang akademik, pengalaman usaha, dan kepemimpinan organisasi, Sriyadi Purnomo dikenal sebagai figur yang konsisten memperjuangkan koperasi sebagai jalan hidup—bukan semata instrumen ekonomi, melainkan sarana membangun keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.

Narasi ini disusun berdasarkan penuturan langsung narasumber dan dihadirkan sebagai refleksi kehidupan, tanpa maksud menghakimi maupun mengagungkan. Redaksi berharap kisah ini dapat menjadi inspirasi tentang bagaimana nilai keikhlasan, kerja keras, dan kepedulian sosial mampu membentuk kemandirian serta menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.

 

BAB I

JEJAK AWAL KEHIDUPAN

Sriyadi Purnomo lahir di Kabupaten Klaten pada tahun 1976. Ia tumbuh dan besar di Dukuh Nologaten, Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan—sebuah wilayah pedesaan yang sederhana, tempat kehidupan dijalani dengan kesahajaan dan nilai-nilai kekeluargaan dijaga kuat. Dari lingkungan inilah, karakter Sriyadi perlahan dibentuk: bersahaja, tekun, dan berjiwa ikhlas.

Terlahir sebagai anak ke-9 dari 9 bersaudara, Sriyadi tumbuh dalam keluarga besar yang sederhana. Posisi sebagai anak bungsu menempanya dengan kepekaan sosial, kesabaran, serta kebiasaan hidup prihatin tanpa kehilangan semangat untuk maju.

“Masa kecil saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Bahkan, boleh dibilang keluarga kami termasuk yang paling miskin di desa,” kenang Sriyadi. Ungkapan itu disampaikannya bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai refleksi jujur atas masa lalu yang justru membentuk kekuatan batinnya.

Ayahnya, Fatmadiyoso, bekerja sebagai penjual es keliling di sekolah-sekolah dasar di wilayah Klaten hingga Kecamatan Wedi. Setiap pagi, ia berangkat dengan sepeda pancal, menyusuri jalan desa dari satu sekolah ke sekolah lain. Pulangnya sering menjelang sore hari, dengan penghasilan yang tidak menentu—kadang cukup, sering kali hanya sekadar mencukupi kebutuhan harian keluarga.

Sementara itu, sang ibu, Tuminem, bekerja sebagai buruh tani. Ia menanam padi di sawah milik orang lain, mengandalkan tenaga dan ketekunan untuk membantu menopang ekonomi rumah tangga. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga kerap dipercaya menjadi juru masak dalam berbagai hajatan warga. Dari dapur-dapur sederhana itulah, Sriyadi kecil belajar arti pengabdian, ketulusan, dan kerja tan“Orang tua saya memang tidak sekolah dan tidak bisa baca tulis. Tetapi mereka memiliki niat yang sangat tulus untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang baik dan bertanggung jawab,” tutur Sriyadi penuh hormat.

Meski tak mengenal bangku pendidikan formal, kedua orang tuanya menjadikan keteladanan sebagai sarana utama dalam mendidik anak-anak. Kejujuran diajarkan melalui perilaku sehari-hari, kerja keras dicontohkan melalui peluh yang tak pernah berhenti, dan keikhlasan ditanamkan melalui cara mereka menerima hidup apa adanya—tanpa mengeluh, tanpa menyalahkan keadaan.

Sejak usia dini, Sriyadi menyaksikan langsung bagaimana kedua orang tuanya berjuang mempertahankan kehidupan keluarga dengan kesabaran dan martabat. Keterbatasan ekonomi tidak pernah dijadikan alasan untuk menyerah. Justru dari kondisi itulah ia belajar bahwa hidup harus dijalani dengan kesungguhan, niat yang lurus, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang jujur akan menemukan jalannya.

Dari rumah sederhana di Dukuh Nologaten, Sriyadi memahami bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada harta benda, melainkan pada nilai-nilai kehidupan yang diwariskan. Jejak awal kehidupan inilah yang kelak menjadi fondasi kuat bagi perjalanan panjangnya—menapaki pendidikan, menghadapi kerasnya kehidupan, dan mengabdikan diri bagi sesama dengan penuh keikhlasan.

 

BAB II

PELAJARAN HIDUP DARI SEPEDA PANCAL

Penghasilan sebagai penjual es keliling membuat kehidupan keluarga Sriyadi Purnomo jauh dari kata berkecukupan. Setiap hari, sang ayah menyusuri kampung demi kampung dengan sepeda pancal sederhana, menjajakan es dari pagi hingga sore. Namun, hasil yang dibawa pulang kerap kali tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Dalam sehari, penghasilan ayahnya sering kali hanya berkisar antara Rp3.000 hingga Rp5.000—jumlah yang bahkan pada masa itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

Keterbatasan ekonomi tersebut tidak hanya membentuk cara hidup keluarga Sriyadi, tetapi juga menempa batin dan cara pandangnya sejak usia dini. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkannya tentang kesabaran, keteguhan hati, dan keikhlasan menerima keadaan. Di tengah segala kekurangan itulah, Sriyadi kecil justru memperoleh pelajaran hidup yang kelak menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.

Salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatannya terjadi pada suatu masa ketika hujan turun hampir tanpa jeda selama beberapa hari. Cuaca buruk membuat dagangan es ayahnya tidak laku. Hari itu, sang ayah pulang lebih awal dengan wajah letih, membawa kembali es-es yang tak satu pun terjual.

“Waktu itu bapak pulang membawa es karena tidak ada yang membeli. Saya kira akan disimpan, ternyata bapak justru menyuruh saya membagikannya ke tetangga,” kenang Sriyadi.

Sebagai seorang anak kecil yang hidup dalam kekurangan, Sriyadi merasa heran. Ia tidak memahami mengapa sesuatu yang seharusnya bisa dinikmati sendiri justru dibagikan kepada orang lain. Dengan kepolosan khas anak-anak, ia pun memberanikan diri bertanya,

“Pak, kenapa kok dibagikan? Kita sendiri kan tidak punya apa-apa.”

Pertanyaan itu dijawab ayahnya dengan kalimat sederhana, namun sarat makna—sebuah nasihat yang kelak tertanam kuat dalam sanubari Sriyadi dan terus hidup bersamanya hingga dewasa.

“Tidak apa-apa, Nak. Kita memang tidak punya apa-apa. Tapi es ini milik kita. Kalau kita sedekahkan, mudah-mudahan yang menerima mendoakan kita. Besok semoga dagangan kita laris dan kita bisa kulakan lagi.”

Jawaban tersebut menjadi titik balik pemahaman Sriyadi tentang arti kepemilikan, keikhlasan, dan harapan. Ia belajar bahwa memberi tidak selalu lahir dari kelimpahan, melainkan dari ketulusan hati. Dari peristiwa sederhana itulah, Sriyadi mulai memahami makna sedekah yang sesungguhnya—sebuah nilai luhur yang tidak diajarkan melalui ceramah, tetapi melalui keteladanan nyata.

“Bapak saya mengajarkan bahwa sedekah tidak harus menunggu kaya. Orang miskin pun bisa bersedekah dengan apa saja,” tuturnya.

Pelajaran dari sepeda pancal dan es yang tak terjual itu menjadi bekal spiritual sekaligus moral bagi Sriyadi. Nilai-nilai tentang berbagi, empati, dan keyakinan bahwa kebaikan sekecil apa pun akan kembali pada pelakunya, tumbuh dan mengakar dalam dirinya. Dari lorong-lorong kampung yang basah oleh hujan, Sriyadi kecil belajar bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berhenti berbuat baik—justru dari keterbatasanlah, keluhuran hati diuji dan dimuliakan.

 

BAB III

LANGKAH KECIL MENUJU SEKOLAH

Sriyadi Purnomo menempuh pendidikan dasarnya di SD Negeri Danguran 2, sebuah sekolah negeri yang menjadi saksi awal perjuangannya meraih pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Jarak antara rumah dan sekolah sekitar dua kilometer—jarak yang harus ia tempuh setiap hari dengan berjalan kaki. Sepatu bukanlah perlengkapan wajib baginya kala itu; telapak kakinya telah terbiasa menyentuh tanah, aspal, dan kerikil sepanjang perjalanan menuju ruang kelas.

Setiap pagi saya berangkat sekolah jalan kaki, tidak pakai sepatu. Uang saku saya Rp25, dan itu sudah cukup buat jajan waktu itu,” tuturnya mengenang masa kecilnya.

Perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter. Langkah-langkah kecil itu mengajarkannya tentang disiplin, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar meski keadaan serba terbatas. Ia memahami sejak dini bahwa pendidikan adalah jalan penting untuk mengubah masa depan, sekalipun harus ditempuh dengan pengorbanan.

Di sela-sela waktu sekolah, Sriyadi tidak hanya berperan sebagai murid. Ia turut membantu orang tuanya mencari tambahan penghasilan dengan ikut menjual mainan anak-anak di lingkungan sekolah. Tanpa rasa malu, ia belajar berdagang sejak usia —sebuah pengalaman yang melatih keberanian, kemandirian, dan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain.

Setelah pulang sekolah, hari Sriyadi belum benar-benar berakhir. Ia melanjutkan aktivitas dengan mencari kayu bakar untuk kebutuhan dapur, menggembala kambing milik beliatetangga, serta mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Setiap sore, ia memiliki tanggung jawab memasak nasi untuk keluarga—tugas yang dijalaninya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

“Saya sudah terbiasa masak dari kecil. Kalau ibu pulang, biasanya beliau yang memasak sayur, dan saya menyiapkan teh hangat untuk bapak dan ibu,” kenangnya.

Kehangatan sederhana di meja makan itulah yang menjadi penguat ikatan keluarga. Dalam kesederhanaan, Sriyadi belajar tentang peran, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada orang tua. Ia memahami bahwa membantu keluarga bukanlah beban, melainkan bentuk bakti yang harus dijalani dengan tulus.

Selain itu, Sriyadi juga kerap mendampingi ibunya bekerja sebagai buruh hajatan di kampung maupun saat musim panen melinjo tiba. Dalam pekerjaan tersebut, Sriyadi bertugas memanen melinjo, sementara ibunya mengupas hasil panen dengan tangan-tangan terampil yang telah terbiasa bekerja keras. Upah yang diterima memang tidak besar, namun cukup berarti bagi keberlangsungan hidup keluarga.

Dari jerih payah itulah, kebutuhan sekolah seperti buku tulis, alat tulis, dan perlengkapan belajar lainnya dapat terpenuhi. Setiap lembar buku yang ia pegang menyimpan cerita tentang kerja keras, pengorbanan, dan harapan orang tua terhadap masa depan anaknya.

Pengalaman-pengalaman itu membentuk Sriyadi menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Pendidikan baginya bukan hanya tentang duduk di bangku sekolah, tetapi juga tentang belajar dari kehidupan sehari-hari—tentang kerja keras, kesederhanaan, dan rasa syukur. Langkah kecil menuju sekolah itu, yang ditempuh tanpa alas kaki, sejatinya adalah langkah besar menuju pembentukan karakter dan cita-cita hidupnya.

 

BAB IV

BELAJAR USAHA SEJAK DINI

Keterbatasan ekonomi yang membingkai masa kecil Sriyadi Purnomo tidak membuatnya larut dalam keadaan. Sebaliknya, kondisi tersebut justru menumbuhkan sikap mandiri dan naluri bertahan hidup sejak usia belia. Dari sisa uang jajan yang sangat terbatas, ia mulai belajar memahami nilai uang, kesabaran, dan proses dalam sebuah usaha kecil-kecilan.

Waktu itu saya kumpulkan uang jajan sampai Rp1.000. Saya belikan anak bebek di Pasar Kecamatan Wedi. Dapat lima ekor, ditambah satu ekor bonus,” tuturnya mengenang.

Anak-anak bebek tersebut dipeliharanya dengan penuh ketelatenan. Setiap hari ia memastikan pakan tercukupi, kandang tetap bersih, dan hewan ternaknya terjaga kesehatannya. Setelah tumbuh besar, bebek-bebek itu kemudian dijual kembali. Dari hasil penjualan itulah Sriyadi merasakan kepuasan pertamanya sebagai seorang anak yang mampu menghasilkan sesuatu dari jerih payah sendiri.

Tidak berhenti pada beternak bebek, ia juga mencoba memelihara ayam kampung, meskipun dalam jumlah yang sangat terbatas. Aktivitas sederhana itu menjadi ruang belajar yang nyata baginya tentang tanggung jawab dan konsistensi.

“Dari situ saya belajar bahwa hasil tidak datang seketika. Harus dirawat, dijaga, dan dijalani dengan sabar,” katanya.

Pengalaman-pengalaman kecil tersebut perlahan membentuk pola pikirnya. Ia mulai memahami bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, menuntut komitmen, kesungguhan, dan ketekunan. Nilai-nilai inilah yang kemudian tertanam kuat dan menjadi fondasi awal terbentuknya jiwa kewirausahaan dalam dirinya.

Apa yang ia lakukan di masa kecil bukan sekadar upaya menambah uang saku, melainkan proses pembelajaran hidup yang membekas. Dari kandang bebek dan ayam kampung itulah, Sriyadi Purnomo belajar tentang proses, kegigihan, serta keyakinan bahwa kerja keras yang dijalani dengan kejujuran akan selalu menemukan jalannya sendiri.

 

BAB V

AL-QUR’AN, MASJID, DAN PENGABDIAN

Di tengah keterbatasan hidup dan kesibukan bersekolah serta membantu orang tua, Sriyadi Purnomo menemukan ruang pembentukan jiwanya di masjid. Lingkungan Masjid Darussalam, yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya, menjadi pusat pembelajaran spiritual sekaligus ladang pengabdian yang kelak memberi warna kuat dalam perjalanan hidupnya.

Sejak usia muda, Sriyadi telah terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan. Ia mengajar mengaji anak-anak di lingkungan sekitar, bukan karena dorongan materi, melainkan karena panggilan nurani. Pada masa itu, kondisi ekonominya belum memungkinkan untuk memiliki Al-Qur’an pribadi, sebuah keterbatasan yang justru memperlihatkan keteguhan tekadnya.

“Saya mengajar ngaji, tapi belum punya Al-Qur’an. Akhirnya saya jual ayam peliharaan saya untuk membelinya,” ujarnya.

Keputusan sederhana namun penuh makna itu mencerminkan prioritas hidup yang telah tertanam sejak dini. Ayam peliharaan yang sebelumnya menjadi bagian dari usaha kecilnya dilepas demi sebuah mushaf Al-Qur’an. Kitab suci tersebut ia beli seharga Rp2.500—harga yang pada masa itu bukanlah angka kecil bagi seorang anak dari keluarga sederhana.

Al-Qur’an itu bukan sekadar alat mengajar atau benda pribadi. Ia menjadi simbol perjuangan, pengorbanan, dan komitmen terhadap ilmu serta pengabdian. Hingga kini, mushaf tersebut masih disimpannya dengan penuh penghormatan.

“Al-Qur’an itu bukan sekadar kitab bagi saya, tetapi saksi perjalanan hidup,” katanya.

Seiring waktu, keterlibatan Sriyadi di Masjid Darussalam semakin intens. Ia tidak hanya berperan sebagai guru ngaji, tetapi juga dipercaya menjadi marbot masjid. Setiap hari, ia membantu menjaga kebersihan, menyiapkan kebutuhan ibadah, serta memastikan masjid tetap menjadi tempat yang nyaman bagi jamaah.

Dalam pengabdiannya itu, ia menerima uang kesejahteraan sebesar Rp10.000. Namun, bagi Sriyadi, uang tersebut bukanlah tujuan utama. Ia memandangnya sebagai amanah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.

“Uang itu saya gunakan untuk anak-anak ngaji, kerja bakti, dan keperluan masjid. Bagi saya, pengabdian adalah bagian dari sedekah,” tuturnya.

Prinsip tersebut dijalani dengan konsisten. Uang kesejahteraan yang diterimanya tidak ia gunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan dikembalikan sepenuhnya untuk kepentingan bersama. Ia membantu menyediakan kebutuhan belajar anak-anak ngaji, mendukung kegiatan kerja bakti, serta memenuhi berbagai keperluan masjid yang sering kali luput dari perhatian.

Pengabdian di masjid bukan hanya membentuk karakter religius Sriyadi, tetapi juga menanamkan nilai keikhlasan, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Ia belajar bahwa melayani tidak selalu berarti berada di garis depan, melainkan hadir secara konsisten, menjaga amanah, dan bekerja tanpa pamrih.

Pengalaman panjang di masjid inilah yang menjadi fondasi spiritual dalam hidupnya. Dari sajadah, mimbar, dan lantai masjid yang ia rawat, Sriyadi Purnomo menyerap nilai-nilai ketulusan dan kebermanfaatan. Nilai-nilai tersebut kemudian terus ia bawa dalam setiap peran yang dijalani, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun pengabdian yang lebih luas di kemudian hari.

 

BAB VI

MELANGKAH KE MASA DEPAN

Tahun 1990 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan hidup Sriyadi Purnomo. Setelah menuntaskan pendidikan dasar, ia melangkah ke jenjang berikutnya dengan diterima sebagai siswa di SMP Negeri 1 Kebonarum, Kabupaten Klaten. Perpindahan ini bukan sekadar perubahan bangku sekolah, melainkan awal dari fase baru dalam proses pendewasaan dirinya.

Ia memasuki masa remaja dengan bekal yang tidak biasa. Jika sebagian anak seusianya masih berkutat pada permainan dan keceriaan tanpa beban, Sriyadi telah lebih dulu akrab dengan tanggung jawab. Pengalaman hidup yang ia jalani sejak kecil—berjalan kaki ke sekolah, belajar usaha dari ternak kecil, hingga mengabdi di masjid—telah membentuk karakter yang kokoh sebelum waktunya.

Saya tidak punya warisan harta, tetapi saya punya warisan nilai dari orang tua: kerja keras, kejujuran, dan keikhlasan untuk berbagi,” ungkapnya.

Nilai-nilai tersebut bukan sekadar nasihat lisan, melainkan pedoman hidup yang ia jalani sehari-hari. Di lingkungan sekolah yang baru, Sriyadi dikenal sebagai pribadi yang sederhana, tekun, dan mudah bergaul. Ia tidak menempatkan dirinya di atas orang lain, tetapi juga tidak merasa rendah diri dengan keterbatasan yang dimiliki.

Di bangku SMP, Sriyadi mulai belajar memperluas cara pandangnya terhadap dunia. Interaksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang memperkaya pemahamannya tentang kehidupan sosial. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing, dan keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kondisi awal, melainkan oleh sikap dalam menjalani proses.

Pada masa ini pula, semangat belajar dan etos kerja yang telah tertanam semakin menemukan bentuknya. Ia terbiasa membagi waktu antara kewajiban sekolah, membantu keluarga, dan tetap aktif dalam kegiatan keagamaan. Disiplin yang dibangun sejak kecil membuatnya mampu menjalani semua peran tersebut tanpa kehilangan arah.

Langkahnya menuju masa depan memang belum sepenuhnya jelas saat itu. Namun, Sriyadi memiliki satu keyakinan yang terus ia pegang: bahwa hidup harus dijalani dengan kesungguhan dan kebermanfaatan. Ia tidak mengejar kemewahan, tetapi mencari makna dalam setiap proses yang dijalani.

 

BAB VII

PENDIDIKAN DAN ORGANISASI REMAJA

Masa remaja merupakan fase penting dalam membentuk karakter, wawasan, dan kemampuan sosial seseorang. Bagi Sriyadi Purnomo, masa itu bukan hanya soal menuntut ilmu di bangku sekolah, tetapi juga waktu untuk mengasah kepemimpinan, kemandirian, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Setelah menuntaskan pendidikan dasar dan SMP, Sriyadi melanjutkan ke jenjang SMA. Di sinilah ia mulai merasakan bahwa pendidikan formal hanyalah salah satu aspek dalam pembentukan diri. Di luar kelas, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi remaja yang membekalinya dengan keterampilan sosial dan kepemimpinan yang nyata.

Di masa remaja, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi tentang siapa yang bisa membawa orang lain maju bersamaan,” kenangnya.

Salah satu pengalaman awalnya dalam kepemimpinan terjadi di lingkungan sekolah dan komunitas remaja setempat. Ia dipercaya memimpin berbagai kelompok kecil yang bergerak di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Di antaranya:
Ketua RISDA, kelompok remaja yang fokus pada pendidikan dan pembinaan spiritual. Ketua RISNA, organisasi remaja yang bergerak dalam kegiatan sosial dan pengembangan diri. Wakil Ketua PCN Wedi, di mana ia belajar mengelola program, memimpin rapat, dan memastikan semua kegiatan berjalan efektif dan bermanfaat. Pengalaman ini memberinya keterampilan penting yang tidak diajarkan di sekolah: Manajemen kegiatan dan program, belajar merancang dan melaksanakan kegiatan dari awal hingga akhir.

Kemampuan berkomunikasi dan memotivasi orang lain, agar setiap anggota merasa dihargai dan termotivasi.
Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, karena dalam organisasi selalu muncul tantangan yang harus dihadapi bersama. Kedisiplinan dan tanggung jawab, karena setiap tugas harus selesai tepat waktu dan berdampak nyata bagi anggota dan masyarakat.

Selain itu, keterlibatannya dalam organisasi juga menanamkan nilai kepedulian sosial yang kuat. Ia aktif dalam kegiatan kerja bakti, penggalangan dana untuk anak-anak yatim, serta program belajar mengaji bagi anak-anak di lingkungannya. Nilai-nilai inilah yang kemudian membentuk prinsip hidupnya: sukses pribadi harus diimbangi dengan manfaat bagi orang lain.

Pengalaman organisasi remaja juga menjadi bekal penting ketika Sriyadi merantau ke Bojonegoro. Keterampilan interpersonal, kemampuan memimpin tanpa memaksakan kehendak, dan kepercayaan diri yang ia kembangkan sejak remaja, membantunya beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun jaringan sosial, dan memulai kariernya di Koperasi Kareb.

“Pengalaman organisasi sejak remaja sangat membantu saya saat mulai bekerja. Saya belajar menghadapi orang-orang dengan karakter berbeda, memimpin tanpa memaksakan, dan memastikan semua pihak bisa berjalan selaras,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan organisasi juga menumbuhkan jiwa inisiatif dan kreativitas. Sriyadi kerap menciptakan program baru untuk anggota remaja, mulai dari pelatihan keterampilan, program sosial, hingga kegiatan keagamaan yang inovatif. Hal ini mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya mengatur, tapi juga menciptakan peluang dan inovasi bagi orang lain.

“Setiap pengalaman kecil di masa remaja saya, baik di sekolah maupun organisasi, menjadi fondasi yang menguatkan saya hingga kini. Dari situ saya belajar bahwa langkah kecil dengan konsistensi dapat membawa perubahan besar,” pungkasnya.

 

BAB VIII

MERANTAU, BEKERJA, DAN MENATA HARAPAN

Tahun 1996 menjadi titik balik besar dalam perjalanan hidup Sriyadi Purnomo. Setelah menuntaskan pendidikannya, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa fase berikutnya tidak lagi tentang bangku sekolah, melainkan tentang keberanian mengambil langkah hidup yang lebih besar. Dengan tekad dan restu keluarga, ia bersiap meninggalkan tanah kelahirannya di Klaten.

“Saya lulus pada tahun 1996. Setelah itu, saya diantar oleh bapak saya ke Bojonegoro, kepada pak lek saya yang bernama Sakimin Djokosubroto,” kenangnya.

Sakimin Djokosubroto adalah kakak kandung dari ibunya, anak keempat dalam keluarga, yang telah lebih dahulu menetap di Kabupaten Bojonegoro. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan peralihan dari masa belajar menuju masa pengabdian dan kerja nyata. Bagi Sriyadi, Bojonegoro adalah tanah harapan—tempat ia harus membuktikan diri sebagai pribadi yang mandiri.

Sejak Juli 1996, Sriyadi mulai menetap di Bojonegoro. Tidak menunggu waktu lama, ia segera didaftarkan bekerja di Koperasi Kareb sebagai tenaga harian atau karyawan kontrak. Kesempatan tersebut ia terima dengan penuh rasa syukur, menyadari bahwa pekerjaan pertama adalah pijakan awal menuju masa depan yang lebih mapan.

Pada 1 Agustus 1996, Sriyadi resmi bekerja di Koperasi Kareb. Lingkungan kerja koperasi menjadi sekolah kehidupan baru baginya—tempat ia belajar disiplin, tanggung jawab, serta pentingnya kepercayaan. Dengan kesungguhan dan ketekunan, ia menjalani setiap tugas yang diberikan. Waktu membuktikan konsistensinya; ia bertahan dan terus mengabdi di Koperasi Kareb hingga hari ini.

Bekal hidup yang ia bawa ke Bojonegoro bukan hanya keterampilan kerja, tetapi juga pengalaman berorganisasi yang telah ia tempuh sejak di Klaten. Di masa sebelumnya, Sriyadi aktif sebagai Ketua RISDA, Ketua RISNA, dan Wakil Ketua PCN Wedi. Pengalaman tersebut membentuk kepekaan sosial, kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan baru.

Pengalaman itulah yang kembali ia terapkan setibanya di Bojonegoro. Ia menyadari pentingnya memiliki tempat bernaung, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara spiritual dan sosial. Tanpa ragu, ia mencari masjid sebagai ruang pengabdian, dan menemukan Masjid Darul Fatah sebagai rumah kedua.

Di masjid itulah Sriyadi kembali meneguhkan jati dirinya sebagai pribadi yang gemar mengabdi. Ia aktif sebagai remaja Masjid Darul Fatah, berkontribusi dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, sembari tetap menjalankan kewajibannya sebagai karyawan Koperasi Kareb. Bagi Sriyadi, bekerja dan beribadah bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua jalan yang saling menguatkan.

Di luar jam kerja, semangat kewirausahaan yang telah tumbuh sejak kecil kembali ia asah. Pengalaman berdagang di Klaten, khususnya di lingkungan sekolah, memberinya kepercayaan diri untuk kembali mencoba peruntungan. Ia membawa satu tekad yang tak tergoyahkan.

“Saya punya motivasi kuat bahwa ketika saya keluar dari Klaten, saya harus berhasil. Tidak ada yang bisa saya banggakan selain harapan, doa, dan restu orang tua. Itulah yang saya bawa, sehingga saya harus berhasil.”

Sejak menjadi karyawan Koperasi Kareb pada tahun 1996, Sriyadi membagi waktunya dengan berdagang sepulang kerja. Ia menjual polowijo, pakaian, dan berbagai barang lainnya. Tidak ada pekerjaan yang ia pilih-pilih; semua ia jalani sebagai bentuk ikhtiar dan pembelajaran hidup.

Keinginannya sederhana namun kuat: meskipun telah bekerja dan menerima gaji bulanan, ia tetap ingin memiliki usaha mandiri di rumah. Baginya, usaha adalah simbol kemandirian dan ketahanan hidup. Melalui berdagang, keinginan tersebut ia wujudkan dengan penuh kesabaran.

Perjalanan itu tidak selalu mudah, namun dijalani dengan keyakinan dan ketekunan. Sedikit demi sedikit, usaha yang ia rintis terus berjalan dan berkembang. Hingga kini, semangat berdagang dan berwirausaha tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

 

BAB IX

PENDIDIKAN, KELUARGA, DAN TUMBUH BERSAMA WAKTU

Tahun-tahun awal bekerja di Bojonegoro menjadi masa pembentukan yang sangat menentukan bagi Sriyadi Purnomo. Pada tahun 1996, ia resmi memulai karier sebagai karyawan Koperasi KAREB, sebuah fase yang ia jalani dengan penuh kesungguhan. Namun, di tengah kesibukan bekerja, ia tidak mematikan mimpinya untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

Setahun kemudian, pada 1997, Sriyadi mengambil keputusan penting: melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di STIE Cendekia. Keputusan ini bukan perkara mudah. Dengan keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab kerja, kuliah adalah tantangan besar. Namun, baginya, pendidikan adalah jalan untuk memperluas wawasan dan memperbaiki masa depan.

Meski menjalani peran ganda sebagai karyawan dan mahasiswa, semangat kewirausahaan yang telah tertanam sejak kecil tidak pernah ia lepaskan. Sepulang kerja dan di sela-sela waktu kuliah, Sriyadi tetap berdagang. Ia menjual baju bekas, baju baru, polowijo, gula, beras, singkong, dan berbagai komoditas lainnya. Hampir semua jenis usaha pernah ia jalani.

Aktivitas berdagang tersebut bukan semata untuk menambah penghasilan, melainkan juga sebagai ruang belajar. Dari situ ia memahami dinamika pasar, melatih ketekunan, serta membangun mental pantang menyerah. Hidup baginya adalah proses berlatih tanpa henti.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Pada tahun 2001, Sriyadi berhasil menyelesaikan studinya dan diwisuda sebagai Sarjana Strata Satu (S1). Momen itu menjadi salah satu titik paling membahagiakan dalam hidupnya.

“Saat itu, alangkah bahagianya orang tua saya, alangkah bahagianya keluarga dan saudara-saudara saya,” kenangnya.

Di antara sembilan bersaudara, Sriyadi adalah satu-satunya yang berhasil meraih gelar sarjana. Prestasi tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kebanggaan besar bagi orang tua dan keluarga besarnya. Bagi Sriyadi, gelar sarjana adalah simbol bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi siapa pun yang mau berjuang.

Setelah menyelesaikan pendidikan, fase kehidupan Sriyadi memasuki babak baru. Pada tahun 2002, ia menikah dengan Tuti Wahyuningsih, teman seperjuangannya di Remaja Masjid Darul Fatah. Pernikahan tersebut menjadi titik temu dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda.

Tuti Wahyuningsih merupakan putri dari Bapak Haji Budi Suprayitno dan Hajah Endang Siti Nuriah. Ia berasal dari keluarga yang tergolong mampu, sementara Sriyadi tumbuh dari keluarga sederhana. Namun, perbedaan latar belakang itu tidak menjadi sekat.

“Alhamdulillah, saya diterima dengan sangat baik oleh keluarga besar Bapak Haji Budi Suprayitno,” ujarnya penuh syukur.

Tidak hanya menerima, keluarga besar istrinya bahkan memberikan dukungan nyata. Sriyadi diberi kesempatan dan tempat untuk berdagang, serta mendirikan usaha les privat komputer—sebuah langkah progresif pada masanya yang menunjukkan kepercayaan besar terhadap kemampuan dan integritasnya.

Kehidupan keluarga Sriyadi semakin lengkap ketika pada tahun 2003 ia dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Seno Ajinalendra Pradipta. Sejak kecil, Sriyadi membiasakan putranya untuk mengenal dunia usaha, agar memahami proses dan perjuangan hidup yang sesungguhnya.

Seiring berjalannya waktu, perjuangan dan nilai-nilai yang ia tanamkan membuahkan hasil membanggakan. Seno Ajinalendra Pradipta kini telah dilantik sebagai Perwira TNI Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Dua (Letda) Infanteri—sebuah capaian yang menjadi kebanggaan besar bagi keluarga.

Pada tahun-tahun tersebut, Sriyadi tetap menjalani peran ganda. Di satu sisi, ia bekerja sebagai karyawan Koperasi Kareb, yang pada 2003 masih berstatus sebagai karyawan harian. Di sisi lain, ia terus merintis berbagai usaha dari rumah. Jualan polowijo dan berbagai jenis perdagangan lainnya tetap ia jalani sebagai bentuk ikhtiar dan latihan kemandirian ekonomi.

Semangat membangun usaha semakin menguat ketika pada tahun 2005 Sriyadi mulai merintis usaha penjualan air minum dalam kemasan merek Aqua sebagai subdistributor. Usaha ini mendapat dukungan penuh dari orang tua istrinya dan berlokasi di sebelah rumah, tepatnya di Dukuh Jambean, Desa Sukorejo, Kecamatan Kota Bojonegoro. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan kewirausahaannya.

Setahun kemudian, pada 2006, Sriyadi kembali dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nur Rahma Sinta Widyastuti. Seiring waktu, putrinya tumbuh menjadi pribadi yang tekun dan berprestasi. Saat ini, Nur Rahma Sinta Widyastuti menempuh pendidikan di Universitas Airlangga (Unair), mengambil jurusan Akuntansi—sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga.

 

BAB X

MENEGUHKAN PERAN: LEADERSHIP, INOVASI, DAN PENGEMBANGAN KOPERASI KAREB


Perjalanan karier saya di Koperasi Karyawan Redrying Bojonegoro (Koperasi Kareb) bukan hanya soal meniti jenjang jabatan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah koperasi bisa tumbuh menjadi wadah ekonomi besar yang memberikan manfaat luas bagi anggota, karyawan, dan masyarakat. Semua itu dimulai dari dedikasi, kerja keras, dan kepercayaan yang diberikan kepada saya oleh manajemen dan anggota koperasi.

Sejak bergabung sebagai karyawan harian pada tahun 1996, saya berkomitmen untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab dan integritas. Seiring waktu, jam terbang dan keterlibatan aktif saya dalam operasional koperasi membuat kepercayaan itu meningkat. Saya kemudian dipercaya menjadi karyawan tetap, kemudian kepala seksi, dilanjutkan menjadi kepala bagian — sebuah proses yang bukan sekadar kenaikan jabatan, tetapi juga pengakuan atas kemampuan kepemimpinan dan loyalitas saya terhadap koperasi.

Puncak dari kepercayaan itu terjadi pada tahun 2010, ketika saya diangkat menjadi Ketua Koperasi Kareb oleh anggota melalui Rapat Anggota Tahunan (RAT). Momen ini adalah titik balik penting. Saya tidak lagi hanya sebagai pelaksana teknis, tetapi sebagai pemimpin yang bertanggung jawab merumuskan arah strategis koperasi untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Visi itu kemudian diwujudkan melalui pengembangan beragam unit usaha baru yang menjadi landasan diversifikasi koperasi. Pada tahun 2011, kami memperluas kiprah dengan meluncurkan unit pertokoan dan distributor, termasuk ritel modern yang mampu menjawab kebutuhan anggota dan masyarakat luas. Tidak lama kemudian, pada akhir Desember 2012, lahir unit transportasi yang hingga saat ini berkembang pesat dengan memiliki 43 unit truk besar yang menjadi tulang punggung logistik koperasi serta mitra usaha di wilayah Jawa Timur maupun sekitarnya .

Perjalanan pengembangan ini berlanjut. Pada tahun 2014, saya diangkat sebagai Wakil Direktur, dan setahun kemudian, pada 2015, saya dipercayakan sebagai Direktur Koperasi Kareb, jabatan yang saya emban hingga hari ini dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab.

Melihat kembali sejarahnya, Koperasi Kareb berdiri pada tahun 1976, hampir bersamaan dengan tahun kelahiran saya sendiri. Awalnya, koperasi hanya memiliki puluhan anggota dan bergerak dalam unit usaha sederhana. Namun seiring waktu, di bawah komitmen anggota serta dukungan mitra strategis, koperasi ini berkembang menjadi organisasi ekonomi besar yang mampu membuka ribuan lapangan kerja dan menciptakan dampak sosial-ekonomi signifikan di Bojonegoro dan sekitarnya.

Peran Koperasi Kareb kini tidak hanya terbatas pada bidang tradisionalnya saja. Beragam unit usaha bergerak di sektor pengolahan tembakau, produsen sigaret kretek tangan (SKT), simpan pinjam, distributor, ritel, transportasi, hingga perumahan sekaligus menjadi bagian dari strategi diversifikasi koperasi yang berkelanjutan . Unit-unit ini bukan sekadar bisnis, tetapi juga media pemberdayaan ekonomi bagi ribuan karyawan yang menjadi bagian dari keluarga besar koperasi.

Salah satu peristiwa penting yang menandai perkembangan pesat koperasi adalah peresmian anak usaha bernama PT Kareb Alam Sejahtera MPS pada 30 Januari 2024. PT ini menjadi Mitra Produksi Sigaret yang signifikan dalam menyerap tenaga kerja produktif dan mendukung ekosistem ekonomi lokal melalui pelibatan ribuan pekerja dalam proses produksi dan distribusi ‎.


Hingga kini, Koperasi Kareb telah membawahi kurang lebih 7.000 karyawan di seluruh unit usahanya, termasuk para pekerja yang mayoritas berasal dari kelompok perempuan pelinting rokok serta sektor jasa lainnya ‎. Perkembangan ini tidak hanya memperkuat posisi koperasi di tingkat lokal, tetapi juga menunjukkan bahwa koperasi dapat menjadi model ekonomi berbasis pemberdayaan rakyat dan pengembangan sumber daya manusia.

Sebagai Direktur, saya selalu menekankan pentingnya inovasi dan pembelajaran berkelanjutan. Salah satu inisiatif terbaru yang kami jalankan adalah kerja sama strategis dengan STIEKIA Bojonegoro dalam program “Bekerja Sambil Kuliah”, sebuah kelas perkuliahan yang dirancang khusus untuk karyawan, sehingga mereka dapat mengembangkan kompetensi akademik tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Program ini menunjukkan komitmen koperasi dalam meningkatkan kualitas SDM anggotanya secara nyata ‎.

Selain itu, bekerja sama dengan lembaga-lembaga keuangan seperti Bank UMKM Jatim dan dukungan dari LPDB-KUMKM, kami terus memperkuat struktur pembiayaan, akses modal kerja, serta pengembangan unit usaha baru yang berdampak luas bagi kesejahteraan anggota dan masyarakat ‎.

Perkembangan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi saya pribadi, tetapi juga menjadi bukti bahwa semangat koperasi — gotong royong, saling percaya, dan kerja sama — mampu mengubah nasib banyak orang. Dari koperasi kecil yang tumbuh dari kebutuhan pekerja, kini Koperasi Kareb menjadi organisasi ekonomi yang menunjukkan bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha, tetapi alat pemberdayaan ekonomi yang mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat luas.

 

BAB XI

WARISAN NILAI DAN PENGABDIAN SEJATI

Perjalanan hidup Dr. H. Sriyadi Purnomo, S.E., M.M. bukan sekadar kisah karier atau keberhasilan ekonomi, tetapi sebuah narasi panjang tentang bagaimana nilai keikhlasan, kerja keras, dan kepedulian sosial dapat menjadi pijakan untuk mencipta manfaat nyata bagi diri sendiri, keluarga, komunitas, hingga masyarakat luas.

Sebagai Direktur Utama Koperasi Karyawan Redrying Bojonegoro (Koperasi Kareb), Sriyadi telah menorehkan kiprah luar biasa dalam dunia koperasi di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Koperasi Kareb berkembang menjadi bukan hanya organisasi ekonomi berbasis anggota, tetapi institusi pemberdayaan yang merangkul ribuan tenaga kerja dan beragam unit usaha strategis. Secara organisasi, koperasi ini kini membawahi hampir 7.000 karyawan yang tersebar di berbagai unit usaha termasuk layanan processing tembakau, sigaret kretek tangan (SKT), simpan-pinjam, pertokoan dan distribusi, transportasi serta perumahan—sebuah bukti nyata bagaimana koperasi bisa menjadi rumah ekonomi yang kuat bagi masyarakat kerakyatan.

Atas dedikasi dan keberhasilannya menggerakkan ekonomi rakyat, Sriyadi Purnomo dianugerahi Lencana Kehormatan Jer Basuki Mawa Bea Perak oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sebuah penghargaan prestisius yang mencerminkan pengakuan publik atas kerja keras dan dampak sosial ekonomi dari kiprah kepemimpinannya di dunia koperasi. Penghargaan ini bukan hanya miliknya, tetapi juga persembahan bagi seluruh pengurus, anggota, dan karyawan yang telah bekerja bersama mewujudkan visi besar untuk kesejahteraan bersama.

Namun, pengabdian Sriyadi tidak berhenti di pintu koperasi semata. Di luar aktivitas formal, beliau juga mengembangkan berbagai usaha produktif di rumah dan lingkungan masyarakat. Di bidang perikanan, ia membudidayakan lele serta membina mitra lele, budidaya kodok, dan cacing sutra—komoditas yang dilihatnya memiliki potensi pemberdayaan masyarakat luas. Di bidang peternakan, ia merawat kelinci, sapi, dan puyuh dengan pendekatan integrasi biologis yang cerdas, memanfaatkan setiap elemen ekosistem sebagai sumber manfaat: kotoran kelinci sebagai pupuk organik, urine sebagai pupuk cair dan media bagi budidaya cacing sutra, serta daun dan batang pisang sebagai pakan jangkrik dan sumber pakan ternak lainnya. Pendekatan semacam ini bukan sekadar usaha agribisnis, tetapi ekonomi sirkular yang mencerminkan kecakapan beliau dalam menghubungkan ilmu, praktik, dan manfaat sosial.

Dalam sektor pertanian, Sriyadi dan timnya juga pernah mengelola tanaman jagung, padi, dan pisang dengan prinsip terintegrasi yang sama. Seluruh rangkaian usaha ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak harus terbatas pada satu bidang saja, melainkan dapat dirangkai secara sinergis untuk menciptakan ekosistem produktif yang berkelanjutan.

Spirit pengabdian beliau juga terpancar dalam kontribusi nyata terhadap pembangunan fasilitas keagamaan. Berbekal pengalaman sebagai marbot di Klaten dan pengurus Masjid Darussalam, ketika rezeki mulai melimpah, Sriyadi membangun Mushola Nur Alami di belakang rumah untuk umum dan keluarga—sebuah tempat ibadah kecil yang dibuka bagi siapapun yang membutuhkan ruang spiritual. Dalam skala yang lebih besar, beliau juga mendirikan Masjid Darussalam di Desa Banjarsari, menjadi pusat pengembangan ekonomi dan sosial melalui unit usaha di bidang peternakan, perikanan, serta pertanian. Lahan seluas lebih kurang 1,5 hektare digunakan untuk kegiatan produktif yang mendukung pemberdayaan masyarakat sekitar sehingga masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga sumber kesejahteraan nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Kiprah ini juga mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Usaha pemberdayaan yang beliau jalankan—termasuk pembinaan ternak, kolam pancing, dan pertanian di yayasan—telah menarik perhatian tokoh publik dan pimpinan daerah yang mengunjungi langsung lokasi binaan untuk melihat dampak positifnya terhadap ketahanan pangan lokal dan pembangunan sosial-keagamaan.

Di sisi lain, di bawah kepemimpinan Sriyadi, Koperasi Kareb juga menunjukkan komitmen tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM). Melalui kerja sama strategis dengan institusi pendidikan, koperasi meluncurkan program yang memungkinkan karyawannya kuliah sambil bekerja—sebuah inisiatif yang tidak hanya membuka peluang pendidikan bagi para pekerja, tetapi juga memperluas wawasan dan kompetensi mereka dalam dunia kerja dan wirausaha.

Semua upaya tersebut bukan hanya mencerminkan keberhasilan ekonomi, tetapi juga keberhasilan sosial yang berpijak pada nilai-nilai keikhlasan, kolaborasi, dan pemberdayaan. Nilai-nilai ini pula yang mengantar Sriyadi Purnomo menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda, penggerak koperasi, pengusaha mikro, dan siapa pun yang percaya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.

 

PENUTUP

Perjalanan hidup Dr. H. Sriyadi Purnomo, S.E., M.M. adalah cermin nyata dari ketekunan, kerja keras, dan pengabdian yang tulus. Dari masa kecil yang sederhana di Klaten, ketika ia berjalan kaki ke sekolah tanpa alas kaki, hingga menjadi Direktur Koperasi Kareb, seorang penggerak ekonomi kerakyatan, pembina usaha produktif, dan tokoh sosial yang dihormati, setiap langkahnya adalah bukti bahwa keberhasilan lahir dari kesabaran, nilai, dan dedikasi.

Keberhasilan Sriyadi Purnomo tidak hanya diukur dari jabatan atau luasnya jaringan usaha yang ia pimpin. Ia dikenal sebagai pemimpin visioner di Koperasi Kareb, yang berhasil mengembangkan koperasi menjadi organisasi besar dengan ribuan anggota dan karyawan, berbagai unit usaha mulai dari perdagangan, ritel modern, transportasi logistik, hingga anak perusahaan berbadan hukum. Di bawah kepemimpinannya, koperasi tidak hanya menumbuhkan ekonomi anggota, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan sosial dan pendidikan, termasuk program kuliah sambil bekerja yang membuka peluang bagi anggota untuk menimba ilmu tanpa terbebani biaya.

Selain itu, Sriyadi juga membangun berbagai usaha produktif di rumah dan lingkungan sekitarnya. Di bidang perikanan, ia membudidayakan lele, kodok, dan cacing sutra, sekaligus membina mitra usaha. Di peternakan, ia mengelola kelinci, sapi, dan puyuh, memanfaatkan limbah secara optimal menjadi pupuk atau pakan, dan menciptakan sistem ekonomi terintegrasi yang efisien. Di sektor pertanian, tanaman jagung, padi, dan pisang dikelola sedemikian rupa sehingga setiap bagian menghasilkan manfaat maksimal.

“Di rumah, saya mengembangkan berbagai usaha, mulai dari perikanan, peternakan, sampai pertanian. Semua itu saya rancang saling berkaitan, tidak berdiri sendiri. Kotoran kelinci kami manfaatkan sebagai pupuk, urine untuk pupuk cair dan cacing sutra. Batang pisang untuk pakan jangkrik, daun dijual, buah dimanfaatkan sepenuhnya. Prinsip saya, satu usaha harus menghidupi usaha lain,” tambahnya.

Nilai pengabdian yang ditanam sejak muda juga terus hidup dalam langkahnya. Dari pengalaman menjadi marbot dan guru ngaji di Klaten, Sriyadi membangun Mushola Nur Alami di rumah dan Masjid Darussalam di Desa Banjarsari. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi umat, dengan unit usaha yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Keberhasilan Sriyadi Purnomo juga diakui melalui berbagai penghargaan dan sanjungan dari berbagai pihak. Dedikasinya dalam memberdayakan koperasi, menggerakkan ekonomi rakyat, dan menumbuhkan kemandirian anggota menjadikannya panutan bagi banyak orang. Sosoknya dicontohkan sebagai pemimpin yang bijaksana, rendah hati, dan mampu menyeimbangkan dunia usaha, keluarga, dan pengabdian sosial.

“Bagi saya, keberhasilan itu bukan seberapa besar usaha yang kita miliki, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain,” tegasnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. Tidak ada kata lain kecuali “luar biasa” perjuangan panjang yg penuh ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, akhirnya semuanya bisa dilalui walau penuh “rintangan” – berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian – bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Sukes selalu kawan.

  2. Semoga diri pribadi bisa mengambil ilmu dan pelajaran dari kisah hidup beliau, sehat sukses dan berkah selalu semoga senantiasa menyelimuti kehidupan beliau.