News Bojonegoro — Festival Salak Wedi 2025 yang digelar Pemerintah Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (13/12/2025), berlangsung meriah dan menyedot ribuan pengunjung. Pesta rakyat yang mengusung semangat syukur, budaya, dan penguatan ekonomi lokal itu menjadi magnet warga dari berbagai wilayah.
Sejak pagi, Desa Wedi dipadati lautan manusia yang tumpah ruah di sepanjang rute kirab. Grebeg salak gratis, makan salak bersama, bazar UMKM, hingga pentas seni tradisional dan hiburan rakyat berlangsung tanpa sekat, menghadirkan suasana akrab dan penuh euforia.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul cerita lain. Sejumlah pengunjung mengaku kehilangan handphone saat mengikuti rangkaian acara Festival Salak Wedi. Dugaan pencopetan pun mencuat seiring adanya beberapa orang yang mengaku kehilangan di lokasi acara.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, kehilangan datang dari sejumlah pengunjung dengan lokasi dan waktu kejadian yang relatif berdekatan. Mayoritas korban menyebut kehilangan terjadi saat kondisi paling padat, terutama di jalur kirab gunungan salak dan area panggung hiburan, ketika pengunjung saling berdesakan.
“Waktu grebeg salak itu berdesakan sekali. Pas mau foto, handphone sudah tidak ada,” ujar salah satu pengunjung yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Sebagian korban mengaku baru menyadari handphone mereka hilang setelah kerumunan mulai terurai. Hingga berita ini diterbitkan, panitia pelaksana maupun Pemerintah Desa Wedi belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pencopetan yang dialami sejumlah pengunjung Festival Salak Wedi 2025.
Festival Salak Wedi sejatinya memiliki tujuan mulia, yakni mengangkat identitas desa sebagai sentra salak, memperkuat perputaran ekonomi UMKM, serta merawat budaya lokal melalui pesta rakyat. Namun, peristiwa kehilangan yang dialami pengunjung menjadi catatan penting dalam penyelenggaraan event berskala besar.
Perayaan yang melibatkan massa dalam jumlah besar membutuhkan kesiapan pengamanan dan pengelolaan kerumunan yang memadai. Tanpa evaluasi serius, kemeriahan festival berisiko tercoreng oleh rasa tidak aman—sebuah ironi bagi pesta rakyat yang sejatinya dirancang untuk menghadirkan kegembiraan, bukan keresahan.
Kepala desa wedi Heru Purnomo membenarkan adanya kejadian tersebut.
“Iya benar, untuk informasi lebih lengkap bisa ke panitia atau ke kapolsek.” Terang kades melalui sambungan aplikasi whatsApp.















