NewsBojonegoro.com – Program Makan Bersama Gratis (MBG) terus mencuri perhatian publik. Hadir sebagai inovasi sosial, MBG tidak hanya membantu keluarga kurang mampu mendapatkan makanan layak, tetapi juga menjadi model bisnis berkelanjutan yang mampu mendatangkan keuntungan bagi investor sekaligus membuka ribuan lapangan kerja.
Berdasarkan kajian, satu dapur MBG dengan kapasitas 3.000 porsi per hari mampu meraup keuntungan bersih sekitar Rp180 juta setiap bulan, dengan margin Rp2.000 per porsi. Dengan modal awal Rp500 juta hingga Rp1 miliar, investor dapat balik modal (BEP) hanya dalam 6–8 bulan.
Manfaat langsung juga dirasakan masyarakat. Satu keluarga peserta MBG bisa menghemat hingga Rp300 ribu per bulan. Jika satu dapur melayani 3.000 keluarga, total penghematan mencapai Rp900 juta per bulan atau setara Rp10,8 miliar per tahun. Selain itu, satu dapur skala besar menyerap sekitar 50 tenaga kerja. Jika 100 dapur beroperasi, lebih dari 5.000 pekerjaan baru bisa tercipta.
Meski potensinya besar, tidak semua dapur MBG berjalan mulus. Sejumlah kendala muncul, mulai dari pengelola yang ingin meraup keuntungan lebih, intervensi pihak ketiga seperti calo politik, hingga lemahnya pengawasan mutu. Padahal, sesuai Permenkes No. 1096/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasa Boga, standar keamanan pangan menjadi kewajiban utama setiap penyelenggara.
“Konsep MBG tidak salah, yang bermasalah justru pengelolaan. Kalau dijalankan sesuai aturan, program ini bisa memberi manfaat besar,” ujar salah satu pemerhati pangan lokal.
Untuk menjaga keberlanjutan, program MBG wajib mengikuti aturan nasional, di antaranya:
UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan
UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
SNI 01-4852-1998 tentang Makanan Siap Saji
Peraturan BPOM No. 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan
Kepatuhan terhadap aturan ini diyakini mampu meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menjamin manfaat maksimal bagi masyarakat.
Dengan prinsip transparansi keuangan, disiplin kontrol kualitas, serta bebas dari intervensi politik, MBG dinilai mampu menjadi model bisnis sosial yang bisa direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Program ini diharapkan menjadi solusi nyata bagi ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi lokal.












