Masjid “Samin Baitul Muttaqin” Viral, Begini Respons Takmir dan Tokoh Samin di Margomulyo

Keagamaan459 Dilihat
banner 400x130

News Bojonegoro — Polemik penamaan masjid baru yang dibangun melalui APBD di Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo, akhirnya menemukan titik terang. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro secara resmi menamai masjid tersebut “Samin Baitul Muttaqin”, dan keputusan ini menjadi perbincangan hangat masyarakat.

Hasil pantauan langsung News Bojonegoro di lokasi, Kamis (4/12/2025), menunjukkan bahwa para takmir masjid maupun tokoh masyarakat Samin justru tidak mempermasalahkan nama tersebut. Bahkan mereka menegaskan bahwa penamaan itu sepenuhnya menjadi kewenangan Pemkab sebagai pihak yang membangun.

Sareh, salah satu takmir masjid yang juga Ketua Ranting NU Sumberejo, dengan tegas menyatakan dukungannya.

“Saya ikut saja keputusan Pemkab Bojonegoro yang telah memberikan nama Samin Baitul Muttaqin, karena masjid itu juga dibangun dari dana APBD,” ujar Sareh.

Senada dengannya, Abdul Ghofur—takmir sekaligus anggota Banser—menyampaikan bahwa pengelolaan masjid kini masih fokus pada kegiatan sholat maktubah sembari menunggu peresmian resmi dari Pemkab.

“Takmir sepakat mengikuti keputusan Pemkab. Untuk kegiatan lain masih menunggu peresmian,” jelasnya.

Tokoh Samin Margomulyo, Bambang Sutrisno, turut angkat bicara. Menurutnya, penggunaan kata “Samin” dalam nama masjid bukanlah persoalan, justru bentuk apresiasi terhadap sejarah ajaran Samin.

“Kesimpulannya, nama Samin Baitul Muttaqin bagi kami tidak ada masalah. Pemkab yang membangun, Pemkab pula yang memberi nama,” tegas Bambang.

Ia menambahkan, selama tidak ada pihak yang dirugikan, masyarakat Samin tidak mempersoalkan penamaan tersebut.

Bambang menjelaskan bahwa istilah “Samin” berasal dari kata sami-sami, yang berarti bersama-sama. Ajaran ini lahir dari perlawanan terhadap penjajah Belanda yang dipimpin Mbah Suro Sentiko (R. Kohar), menanamkan prinsip kesetaraan, kebersamaan, dan anti-penindasan.

Mengenai anggapan publik bahwa masyarakat Samin “nyleneh”, ia menegaskan bahwa itu adalah strategi khusus untuk mengelabui penjajah.

“Jawaban nyleneh itu khusus untuk penjajah. Seperti ditanya mau ke mana? Dijawab mau ke depan. Itu bentuk kejujuran tapi mengaburkan,” terangnya.

Bambang juga menyampaikan bahwa masyarakat Samin dulu menolak membayar pajak lantaran dipungut penjajah. Setelah pertemuan Mbah Suro Sentiko dengan Soekarno, barulah mereka membayar pajak sebagai warga negara merdeka.

Laku Jujur, Sabar, Trokal lan Nrimo — berperilaku baik, jujur, sabar, dan menerima.

Ojo Dengki Srei, Dahwen Kemiren — tidak iri dengki dan tidak mengambil hak orang lain.

Ojo Mbedo-Mbedakno Sapodo Padaning Urip — jangan membeda-bedakan manusia; semua saudara.

Ojo Waton Omong, Omong Sing Nganggo Waton — jangan asal bicara; berbicaralah dengan etika.

Biso Roso Rumongso — memiliki rasa empati dan peka terhadap sesama.

Ajaran ini, menurut Bambang, masih dijalankan sebagai pedoman hidup masyarakat Samin hingga hari ini.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *