Harga Bahan Pokok Disebut Naik Saat MBG Kembali Berjalan, DPRD Bojonegoro Minta Masyarakat Lihat Dampak Positif bagi Petani

Ekonomi786 Dilihat
banner 400x130

NewsBojonegoro.com | Bojonegoro – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah Kabupaten Bojonegoro mulai kembali menyalurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seiring dimulainya tahun ajaran baru. Di tengah kembali beroperasinya program tersebut, muncul keluhan dari sebagian masyarakat yang menilai harga sejumlah bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan.

Salah seorang warga Kota Bojonegoro, Ida, mengaku merasakan perbedaan harga beberapa komoditas seperti telur, ayam, dan sayuran setelah Program MBG kembali berjalan.

Menurutnya, saat penyaluran MBG sempat berhenti selama libur sekolah, harga beberapa bahan pangan cenderung lebih stabil dibandingkan saat ini.

“Kemarin waktu MBG libur, harga telur, sayuran, dan ayam lebih murah. Bisa dibilang normal dibanding sebelum program MBG berjalan lagi. Program ini bukannya membuat masyarakat terbantu, tapi malah membuat kebutuhan rumah tangga terasa lebih berat,” ujarnya.

Selain persoalan harga, Ida juga menyoroti kualitas makanan yang diterima sebagian siswa. Ia berharap menu yang disajikan benar-benar memenuhi standar gizi sekaligus memiliki kualitas yang baik sehingga tidak banyak makanan yang terbuang.

Menanggapi keluhan tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro dari Fraksi Gerindra, Sally Atyasasmi, mengajak masyarakat melihat Program MBG secara lebih menyeluruh.

Menurutnya, kehadiran MBG memberikan dampak ekonomi yang positif, khususnya bagi petani, peternak ayam petelur, hingga pelaku UMKM lokal yang menjadi pemasok kebutuhan pangan program tersebut.

“Kita lihat dari sisi positifnya. Dengan adanya Program MBG ini, petani sayuran, peternak ayam petelur, hingga UMKM semakin diuntungkan karena hasil produksinya lebih mudah dipasarkan,” jelas Sally. (7/7/2026).

Ia menambahkan, meningkatnya permintaan hasil pertanian juga berpotensi meningkatkan nilai jual komoditas pertanian. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk kembali menekuni sektor pertanian.

“Sekarang banyak anak muda yang enggan bertani karena pendapatannya dianggap minim. Dengan adanya Program MBG, nilai jual hasil pertanian meningkat sehingga sektor ini kembali memiliki prospek yang baik dan bisa menjadi lapangan pekerjaan yang menarik bagi generasi muda,” katanya.

Terkait anggapan bahwa harga telur turun saat MBG libur, Sally menilai kondisi tersebut tidak bisa dikaitkan secara langsung dengan berhentinya program.
Menurutnya, fluktuasi harga telur dipengaruhi banyak faktor, termasuk momentum hari besar keagamaan dan kondisi produksi di tingkat peternak.

“Kalau soal harga telur murah karena MBG libur, saya rasa kurang tepat. Kemarin harga sempat naik hingga sekitar Rp32 ribu per kilogram karena momentum puasa dan Lebaran. Di hari-hari biasa harganya relatif normal. Ditambah lagi dengan program Pak Bupati melalui Gayatri, produksi telur di Bojonegoro juga semakin melimpah,” pungkasnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *