Terancam Gagal Panen, Sawah di Tikusan Tergenang Akibat Luapan Sungai

banner 400x130

NewsBojonegoro.com – Ratusan hektare sawah di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, terancam gagal panen setelah terendam air akibat meluapnya sungai sejak dua hari terakhir. Hujan deras yang terus mengguyur wilayah setempat membuat debit air meningkat tajam hingga menggenangi lahan pertanian warga.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah petani terlihat hanya bisa pasrah melihat padi mereka yang mulai menguning terendam air. Sebagian batang padi bahkan sudah rebah dan mulai membusuk.

Mengetahui hal itu, Kepala Desa Tikusan, Edi Sunarto, langsung turun ke lapangan meninjau lokasi genangan sekaligus mengecek kondisi pintu air di Desa Semanding, Kecamatan Kota Bojonegoro. Ia memastikan penyebab utama lambatnya surut air karena aliran sungai tersumbat tumpukan sampah di sekitar pintu air.

“Setelah kami cek, ternyata benar aliran air tersumbat karena banyak sampah menumpuk di screen pintu air. Tadi kami juga sempat bertemu Bu Kadin PU SDA di lokasi, dan beliau memang rutin melakukan pengecekan,” ujar Edi Sunarto.

Edi menjelaskan, genangan air tidak hanya berdampak di Desa Tikusan, tetapi juga meluas hingga wilayah Kalianyar, Sukowati, Ngampel, Sambiroto, dan Semanding. Sebagian petani sudah memasuki masa tanam, sementara yang lain baru menabur benih ketika banjir datang.

“Sudah dua hari sawah tergenang. Di Dam Semanding ada empat jalur air, dua lancar tapi dua lainnya tersumbat karena saringan atau screen penahan sampah. Kalau saringan ini penuh, air otomatis meluap dan menggenangi sawah,” terangnya.

Menurut Edi, jika tidak segera ditangani, sawah warga berpotensi gagal panen total. Ia menilai persoalan ini bukan kali pertama terjadi, karena hampir setiap musim hujan aliran air tersendat oleh tumpukan sampah yang sama.

“Kalau dibiarkan, petani bisa rugi besar. Hampir setiap tahun masalahnya selalu sampah. Saya sudah mengusulkan kepada Bu Kadin PU SDA agar dipasang alat semacam rotary untuk membersihkan sampah secara otomatis,” tegasnya.

Sebagai solusi jangka panjang, Edi juga mendorong agar sistem pengelolaan pintu air Dam Semanding dibuat otomatis.

“Harus dibuat sistem buka-tutup pintu air berbasis mesin dengan sensor ketinggian dan arus sungai. Selama ini masih manual, butuh tenaga manusia. Kalau otomatis, buka-tutup bisa dilakukan cepat dan akurat, sehingga air tidak sampai meluap ke sawah,” pungkasnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *