Newsbojonegoro.com | Bojonegoro – Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengajak ratusan pelaku usaha yang tergabung dalam Sampoerna Retail Community (SRC) untuk menyerap telur hasil Program Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri) sebagai upaya memperkuat rantai ekonomi lokal. Ajakan tersebut disampaikan saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) SRC ke-18 di Pendopo Malowopati Bojonegoro, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan bertajuk “Bukti Nyata #JadiLebihBaik” itu dihadiri Ketua Paguyuban Mitra Sigaret Indonesia (PMSI) Sriyadi Purnomo, Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Suprapto, perwakilan BRI Cabang Bojonegoro, Telkomsel Indonesia, jajaran SRC Indonesia, serta ratusan pemilik toko SRC dari berbagai wilayah di Bojonegoro.
Dalam sambutannya, Nurul Azizah menyoroti potensi kolaborasi antara pelaku ritel dan masyarakat penerima manfaat Program Gayatri yang saat ini telah menghasilkan telur setiap hari.

Program unggulan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tersebut memberikan bantuan 54 ekor ayam petelur lengkap dengan kandangnya kepada keluarga penerima manfaat guna meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Saya ingin bertanya kepada Bapak dan Ibu yang hadir, apakah perlu kita menghubungkan kebutuhan telur Anda dengan para penerima manfaat Program Gayatri? Jika itu dilakukan, maka toko-toko SRC bisa mendapatkan suplai telur segar setiap hari dari masyarakat Bojonegoro sendiri,” ujar Nurul.
Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati juga meminta perwakilan Dinas Peternakan menjelaskan kondisi harga telur hasil Program Gayatri. Dari pemaparan yang disampaikan, harga telur produksi peternak binaan program tersebut berada di kisaran Rp24.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasokan telur yang selama ini diperoleh sebagian pedagang dari luar daerah, yakni sekitar Rp26.000 per kilogram.
Menurut Nurul, kolaborasi tersebut tidak hanya menguntungkan pedagang dari sisi harga dan ketersediaan barang, tetapi juga membuka pasar bagi peternak lokal sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Bojonegoro.
“Kita harus bisa memanfaatkan potensi lokal ini melalui kerja sama yang saling menguntungkan. Masyarakat yang beternak mendapatkan pasar, sementara pedagang memperoleh pasokan yang kompetitif dan lebih dekat,” katanya.
Selain mendorong pemanfaatan produk lokal, Nurul Azizah juga memperkenalkan Batik Obor Sewu yang dikenakannya dalam acara tersebut. Ia menjelaskan bahwa warna merah dan putih yang mendominasi busananya melambangkan keberanian dan kesucian, sekaligus identik dengan warna bendera Merah Putih dan ciri khas Sampoerna.
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga identitas lokal. Menurutnya, Batik Obor Sewu merupakan batik kebesaran Kabupaten Bojonegoro yang lahir dari semangat perjuangan Mbah Samin Surosentiko.
Nurul menceritakan bahwa Mbah Samin memiliki keterkaitan kuat dengan Bojonegoro karena tumbuh besar di wilayah Margomulyo sebelum akhirnya diasingkan ke Sawahlunto pada masa penjajahan Belanda. Semangat perjuangan tokoh tersebut kemudian menjadi inspirasi lahirnya motif Batik Obor Sewu yang kini telah dipatenkan sebagai batik khas Bojonegoro.
“Saya berharap ada inovasi kolaboratif antara Sampoerna, mitra binaan Pak Yadi, dan para pengrajin batik Bojonegoro agar kebanggaan terhadap produk lokal semakin tumbuh,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan, Romulus Sutanto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra SRC yang telah berkontribusi dalam perkembangan komunitas tersebut sejak berdiri pada tahun 2008.
Menurutnya, hingga saat ini SRC telah berkembang menjadi jaringan ritel dengan sekitar 250 ribu toko yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
“Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah turut serta membesarkan SRC hingga berkembang seperti sekarang,” kata Romulus.
Saat ini terdapat sekitar 750 toko SRC di Bojonegoro yang menjadi bagian dari jaringan nasional tersebut. Dengan kekuatan pasar yang dimiliki, sinergi antara pelaku ritel, peternak lokal, UMKM, dan pemerintah daerah diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memperluas pemasaran produk-produk unggulan Bojonegoro.






















