Bojonegoro Bangun Ekosistem Pangan Terintegrasi, Perumda Siapkan Beras Rojo Nogo dan Jamin Harga Gabah Petani

Berita Utama, Ekonomi, Tokoh1288 Dilihat
banner 400x130

NewsBojonegoro.com | Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu program strategis daerah. Upaya tersebut tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem pangan terintegrasi dari hulu hingga hilir guna meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga ketahanan pangan daerah.

Momentum Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap 21 Juni menjadi pengingat pentingnya peran sektor pertanian bagi pembangunan Kabupaten Bojonegoro. Di tengah dominasi sektor migas, pertanian terbukti menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Di bawah kepemimpinan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah, berbagai program telah dijalankan untuk mendukung produktivitas petani. Program tersebut meliputi bantuan alat dan mesin pertanian, pemenuhan kebutuhan pupuk, pembangunan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, jaminan harga hasil panen, hingga penguatan sektor pengolahan hasil pertanian.

Berbagai intervensi tersebut mulai menunjukkan hasil yang positif. Produksi padi Bojonegoro mengalami peningkatan signifikan dari sekitar 710 ribu ton menjadi lebih dari 864 ribu ton per tahun. Capaian tersebut mengantarkan Bojonegoro naik peringkat menjadi daerah penghasil padi terbesar kedua di Jawa Timur.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengungkapkan bahwa produksi padi pada tahun 2025 mencapai 886.443 ton atau meningkat 24,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca tahun 2026 cenderung normal dengan curah hujan yang tidak setinggi tahun lalu, Pemkab Bojonegoro telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

Menurut Zaenal, pemerintah daerah terus memperkuat infrastruktur pendukung pertanian serta pengelolaan sumber daya air agar produktivitas tetap terjaga. Selain itu, pemanfaatan varietas padi Gamagora 7 atau yang dikenal sebagai padi amphibi juga mulai didorong untuk menyesuaikan karakteristik lahan pertanian di Bojonegoro.

“Berbagai langkah mitigasi sudah kami siapkan, mulai dari penguatan infrastruktur hingga pemanfaatan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan dan iklim di Bojonegoro,” ujarnya.

Pertanian Jadi Penopang Ekonomi Daerah

Kontribusi sektor pertanian tidak hanya terlihat dari peningkatan produksi pangan, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh 0,02 persen secara tahunan. Sementara jika sektor migas dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro mencapai 7,34 persen.

Baca juga: Geopark Bojonegoro Selangkah Lagi Mendunia, Tim Nasional Nilai Siap Hadapi Asesmen UNESCO

Kepala BPS Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut salah satunya ditopang oleh sektor pertanian yang tumbuh hingga 11,38 persen.

Menurutnya, peningkatan produksi padi dan jagung memberikan kontribusi besar dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi daerah sehingga tetap berada pada tren positif.

“Pertanian menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Bojonegoro. Kenaikan produksi tanaman pangan memberi dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.

Perumda Siapkan Hilirisasi dan Beras Rojo Nogo

Selain memperkuat sektor budidaya, Pemkab Bojonegoro juga menyiapkan langkah hilirisasi melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bojonegoro Pangan Mandiri.

Perusahaan daerah yang baru dibentuk tersebut akan berperan dalam menjaga stabilitas harga gabah saat musim panen raya, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian Bojonegoro.

Direktur Utama Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, M. Choirul Huda, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai program yang melibatkan banyak pihak, mulai dari Asosiasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), BUMDes, UMKM, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), hingga Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Bojonegoro.

Kerja sama tersebut rencananya akan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman pada 28 Juni 2026.

Dalam agenda yang sama, Perumda juga akan memperkenalkan merek beras unggulan daerah bernama Rojo Nogo.

“Kami ingin membangun sistem yang saling terhubung antara petani, koperasi, penggilingan hingga pasar. Bersamaan dengan itu, kami juga akan meluncurkan produk beras unggulan daerah dengan merek Rojo Nogo,” kata Choirul.

Ia menjelaskan, gabah hasil panen petani nantinya akan dibeli melalui jaringan KDMP dan Gapoktan dengan harga yang menguntungkan petani sesuai standar kualitas yang telah ditetapkan. Selanjutnya, gabah tersebut akan diproses oleh penggilingan yang tergabung dalam Perpadi sebelum dipasarkan.

Baca juga: Rumah Warga Sraturejo Baureno Ludes Terbakar, Damkarmat Bojonegoro Kerahkan Empat Armada

Hasil produksi beras tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bojonegoro, tetapi juga dipasarkan ke berbagai wilayah lain.

Choirul optimistis kolaborasi tersebut dapat menjadi solusi atas permasalahan yang selama ini menghadapi petani saat panen raya, terutama terkait fluktuasi harga gabah.

“Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan rantai usaha pertanian yang lebih sehat, meningkatkan nilai tambah hasil panen, serta mendorong kesejahteraan petani Bojonegoro secara berkelanjutan,” tutupnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *