PNM Bangun Sumur Bor di Dusun Wadung Sidoharjo, Jawab Persoalan Akses Air Bersih

Berita Utama, Sosial114 Dilihat
banner 400x130

Tuban – Persoalan air bersih menjadi tantangan tersendiri bagi warga Dusun Wadung, Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, terutama ketika musim kemarau berlangsung.

Sebagian besar warga masih mengandalkan sumur gali dan sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika debit air menurun bahkan sejumlah sumber mengering, warga harus mencari alternatif, mulai membeli air tangki hingga menempuh jarak lebih dari satu kilometer untuk mendapatkan air.

Kondisi tersebut kini coba dijawab melalui pembangunan sumur bor dalam program Madani Sanitasi PT Permodalan Nasional Madani (PNM) di Dusun Wadung.

Pantauan NewsBojonegoro.com di lokasi, proses pengeboran masih berlangsung. Sumur tersebut dalam perencanaan ditargetkan mencapai kedalaman sekitar 50 meter dan nantinya dilengkapi pompa serta tandon air.

Pemimpin Cabang PNM Bojonegoro, Rony Dwi Arianto, mengatakan, pembangunan fasilitas air bersih tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami datang langsung untuk melihat proses pengerjaannya sekaligus memastikan program ini berjalan dengan baik. Yang paling penting adalah bagaimana nantinya sumur ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama warga yang selama ini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih,” ujar Rony.

Menurutnya, keberadaan sumber air yang lebih dekat diharapkan dapat membantu masyarakat ketika memasuki musim kemarau.

“Harapan kami tentu setelah selesai nanti sumber airnya bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi bagaimana fasilitas yang dibangun dapat terus memberikan manfaat dan dikelola dengan baik oleh masyarakat,” tambahnya.

Program Madani Sanitasi ini berada dalam lingkup PNM Cabang Bojonegoro, dengan Hery Setiono selaku Pelaksana JMT PNM Cabang Bojonegoro yang menangani pelaksanaan program di lapangan.

Hery Setiono mengatakan, pemilihan Dusun Wadung sebagai lokasi program tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang membutuhkan sumber air yang lebih mudah diakses dan diharapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

“Program ini kami jalankan karena kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah ini memang menjadi perhatian. Harapannya, keberadaan sumur bor ini dapat membantu masyarakat mendapatkan sumber air yang lebih mudah, khususnya saat musim kemarau,” kata Hery.

Proses pengeboran saat ini masih berlangsung. Dalam perencanaan program, sumur ditargetkan mencapai kedalaman sekitar 50 meter, dengan target debit air antara 0,5 hingga 2 liter per detik.

Namun, hasil aktual pengeboran, termasuk debit dan kondisi air, masih harus menunggu pekerjaan selesai serta tahapan pemeriksaan berikutnya.

Berdasarkan data observasi dan informasi Pemerintah Desa Sidoharjo yang menjadi dasar penyusunan program, lebih dari 80 persen warga Dusun Wadung masih mengandalkan sumur gali dan sungai untuk kebutuhan air sehari-hari.

Ketergantungan tersebut menjadi persoalan ketika musim kemarau berlangsung.
Dalam dokumen program disebutkan, musim kemarau di wilayah tersebut dapat berlangsung sekitar empat hingga lima bulan. Pada periode tersebut, debit sumur gali mengalami penurunan drastis dan sebagian sumber air bahkan dapat mengering.

Warga yang membutuhkan air kemudian harus membeli air tangki dengan harga sekitar Rp80.000 hingga Rp120.000 per tangki.

Sebagian warga juga harus menempuh jarak lebih dari satu kilometer untuk mendapatkan sumber air.

Kondisi tersebut tidak hanya menyangkut kebutuhan rumah tangga. Dalam dokumen program, persoalan ketersediaan air juga disebut berpengaruh terhadap kesehatan, aktivitas pendidikan anak, serta pengeluaran keluarga.

Hery mengatakan, pembangunan sumur bor diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap sumber air yang mudah berkurang atau mengering saat musim kemarau.

“Kami tentu berharap manfaatnya bisa dirasakan masyarakat secara langsung. Bukan hanya nasabah PNM, tetapi masyarakat sekitar yang memang membutuhkan akses air bersih,” ujarnya.

Program Madani Sanitasi tersebut secara khusus menyasar 388 nasabah Mekaar Senori yang berada di Desa Sidoharjo.

Di luar kelompok tersebut, masyarakat Desa Sidoharjo secara umum, khususnya warga Dusun Wadung, diproyeksikan menjadi penerima manfaat.

Berdasarkan perencanaan program, fasilitas tersebut diperkirakan dapat menjangkau sekitar 200 kepala keluarga dalam radius pelayanan hingga lima kilometer dari titik pengeboran.

Desa Sidoharjo merupakan bagian dari wilayah kerja Unit Mekaar Senori. Per akhir Juli 2026, unit tersebut tercatat memiliki 1.961 nasabah dengan outstanding sekitar Rp6,84 miliar.

Menurut Hery, cakupan penerima manfaat tersebut menunjukkan bahwa fasilitas air bersih yang dibangun diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

“Konsepnya memang untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, keberadaan sumber air ini diharapkan nantinya dapat digunakan bersama dan dikelola dengan baik,” katanya

Proses pembangunan konstruksi tandon (toren) air sebagai bagian dari fasilitas pendukung sumur bor di Dusun Wadung, Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban.
Proses pembangunan konstruksi tandon (toren) air sebagai bagian dari fasilitas pendukung sumur bor di Dusun Wadung, Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban.

Sumur bor tersebut dibangun di atas tanah milik Suyoto, warga yang dalam dokumen program tercatat sebagai nasabah ULaMM Jatirogo.

Lahan tersebut berstatus hak milik berdasarkan Letter C Desa Nomor 911.
Pemanfaatan lahan juga didukung surat izin penggunaan lahan yang menyatakan bahwa fasilitas sumur dapat digunakan untuk kepentingan umum dan tidak menjadi aset pribadi pemilik lahan.

Menurut Hery, aspek penggunaan lahan menjadi bagian dari perencanaan agar fasilitas yang dibangun melalui program TJSL dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Yang menjadi perhatian adalah bagaimana fasilitas ini nantinya benar-benar memberikan manfaat untuk masyarakat. Karena itu, aspek penggunaan lahannya juga sudah diperhatikan dalam perencanaan,” jelasnya.

Hery menegaskan, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh selesainya pengeboran.

Setelah pekerjaan selesai, hasil sumber air, debit, kualitas air, serta kesiapan sarana pendukung seperti pompa dan tandon akan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sebelum fasilitas dimanfaatkan secara lebih luas.

“Saat ini proses pengeboran masih berlangsung. Setelah selesai, tentu akan dilihat hasil sumber airnya, termasuk debit dan kondisi airnya. Kemudian instalasi pendukung seperti pompa dan tandon juga harus dipastikan dapat berfungsi dengan baik,” ujarnya.

Target kedalaman sekitar 50 meter dan debit antara 0,5 hingga 2 liter per detik merupakan bagian dari perencanaan program. Hasil aktual di lapangan nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui sejauh mana target tersebut tercapai.

Program Madani Sanitasi PNM tersebut juga diarahkan untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6, yakni akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.

Warga Berharap Tak Lagi Bergantung Air Tangki
Bagi warga Dusun Wadung, pembangunan sumur bor tersebut menjadi harapan baru untuk memperoleh sumber air yang lebih dekat.

Eko, salah seorang warga Dusun Wadung, menyambut baik pembangunan fasilitas tersebut.

“Kami tentu senang dengan adanya sumur bor ini. Selama ini kalau musim kemarau persoalan air memang cukup terasa. Harapannya setelah selesai nanti airnya mencukupi dan bisa digunakan untuk kebutuhan warga,” ujar Eko.

Menurut Eko, keberadaan sumber air yang lebih dekat akan sangat membantu ketika sumber air warga mulai berkurang atau mengering.

“Kalau airnya nanti mencukupi, tentu sangat membantu. Warga tidak perlu terlalu jauh mencari air atau membeli air tangki ketika musim kemarau,” katanya.

Ia berharap fasilitas tersebut nantinya dapat dijaga dan dimanfaatkan bersama sehingga keberadaannya bisa memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Hingga kini, proses pengeboran masih berlangsung. Setelah pekerjaan selesai, hasil pengeboran, debit dan kualitas air, serta kesiapan pompa dan tandon akan menjadi tahapan berikutnya sebelum fasilitas tersebut dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat.

(Redaksi)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *