Newsbojonegoro.com | Bojonegoro – Di balik kisah Mbah Suparman yang belakangan menjadi perhatian publik, tersimpan cerita pengabdian yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Lansia yang tinggal di kawasan makam Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro itu ternyata memilih menetap di lokasi tersebut karena telah menjadi bagian dari kehidupannya sebagai penjaga makam desa.
Kepala Desa Sumengko, Rudianto, mengatakan Mbah Suparman selama ini dikenal warga sebagai sosok sederhana yang mengabdikan dirinya sebagai penjaga makam atau yang dalam istilah masyarakat setempat dikenal sebagai polo kubur. Aktivitas tersebut telah dijalani dalam waktu yang cukup lama hingga membuat kawasan makam menjadi tempat yang nyaman baginya untuk menjalani keseharian.
Mbah Suparman Memilih Tinggal di Kawasan Makam
Menurut Rudianto, Mbah Suparman bukanlah seorang lansia yang hidup tanpa keluarga. Ia masih memiliki dua orang anak, satu berdomisili di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dan satu lainnya tinggal di Desa Sumengko.
Baca Juga: Muhadi Ditemukan Meninggal Dunia di Bengawan Solo, Dua Hari Pencarian Tim SAR Berakhir
Namun demikian, Mbah Suparman memilih untuk tetap tinggal sendiri di kawasan makam yang selama ini menjadi tempat pengabdiannya.
“Pak Suparman sebenarnya masih memiliki dua orang anak. Satu tinggal di Jepara dan satu lagi masih di Desa Sumengko. Hanya saja beliau memilih tidak tinggal bersama anak-anaknya dan merasa lebih nyaman berada di tempat yang sekarang,” ujar Rudianto.
Menurutnya, keputusan tersebut sepenuhnya merupakan pilihan pribadi Mbah Suparman yang sudah merasa akrab dengan lingkungan sekitar makam dan aktivitas yang dijalaninya setiap hari.
Pengabdian yang Menjadi Bagian dari Kehidupan
Bagi warga Desa Sumengko, sosok Mbah Suparman bukanlah orang asing. Selain dikenal sebagai penjaga makam, ia juga kerap berinteraksi dengan masyarakat yang datang berziarah maupun warga yang melintas di sekitar kawasan tersebut.
Keberadaannya di area makam bahkan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Karena itu, banyak warga yang mengenal dan memberikan perhatian kepada Mbah Suparman.
Baca Juga: Pengelola SPPG Sumberejo Tegaskan Sewa Gedung Dibayar Rp25 Juta
Rudianto menjelaskan, rumah sederhana yang kini ditempati Mbah Suparman berada di sekitar kawasan makam dan menjadi tempat tinggal yang dipilihnya untuk menjalani masa tua.
“Beliau memang senang tinggal di sana karena sudah terbiasa. Tempat itu juga dekat dengan aktivitas yang selama ini dijalaninya sebagai penjaga makam desa,” jelasnya.
Berbagai Bantuan Sosial Telah Diterima
Rudianto menuturkan bahwa selama ini Mbah Suparman juga telah mendapatkan berbagai bantuan sosial dari pemerintah dan sejumlah pihak lainnya.
Bantuan tersebut antara lain Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), bantuan lansia, bantuan kemiskinan ekstrem, bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), serta bantuan pembangunan sarana mandi, cuci, kakus (MCK).
Baca Juga: Pencari Ikan Diduga Terpeleset Saat Menyetrum Ikan di Bengawan Solo, Tim SAR Lakukan Pencarian
Selain itu, Mbah Suparman juga pernah menerima bantuan sembako dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), bantuan beras dari PAM Obvit, hingga bantuan saat rumahnya terdampak bencana angin puting beliung.
“Ketika rumah beliau terdampak angin puting beliung, pemerintah desa juga memberikan bantuan berupa sembako dan perbaikan rumah. Jadi selama ini perhatian terhadap beliau terus diberikan,” kata Rudianto.
Apresiasi Kepedulian Berbagai Pihak
Pemerintah Desa Sumengko juga mengapresiasi perhatian berbagai pihak yang turut peduli terhadap kondisi Mbah Suparman, mulai dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Dinas Sosial, aparat keamanan, hingga masyarakat.
Baca Juga: Truk Dahului Kendaraan di Depannya, Tabrak Mahasiswa Asal Lamongan dari Arah Berlawanan
Menurut Rudianto, kepedulian yang ditunjukkan berbagai pihak menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan perhatian terhadap warga lanjut usia masih terjaga dengan baik.
Ia berharap sinergi tersebut dapat terus berlanjut sehingga Mbah Suparman dapat menjalani masa tuanya dengan lebih nyaman dan tetap memperoleh pendampingan yang diperlukan.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama memberikan perhatian kepada beliau. Alhamdulillah selama ini banyak pihak yang peduli dan membantu sesuai kebutuhan beliau,” pungkasnya.
Kisah Mbah Suparman menjadi gambaran bahwa setiap orang memiliki pilihan hidup yang berbeda. Di usia senjanya, ia memilih tetap berada di kawasan makam yang telah menjadi bagian dari pengabdiannya selama bertahun-tahun, sembari terus mendapatkan perhatian dari keluarga, pemerintah, dan masyarakat sekitar.















