Newsbojonegoro.com | Bojonegoro – Anggota DPRD Bojonegoro dari Fraksi Gerindra, Sally Atya Sasmi, tidak hanya memberikan pernyataan, tetapi juga turut serta dalam aksi damai peringatan Hari Kartini yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), KPI, dan GMNI di depan gedung dewan.
Dalam aksi tersebut, Sally tampak berbaur bersama peserta, ikut menuliskan pesan dukungan bagi perempuan di atas kertas yang kemudian ditempelkan pada spanduk, serta menyapa langsung massa aksi. Kehadirannya menjadi simbol dukungan legislatif terhadap gerakan yang disuarakan masyarakat sipil.
Menurut Sally, aksi damai tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan simbol keberanian yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini.

“Hari ini aksi damai dari teman-teman AJI, KPI, dan GMNI di gedung DPRD tentu kami apresiasi. Bagi saya pribadi, ini adalah simbol bagaimana kita menjaga keberanian Kartini. Ini bukan sekadar selebrasi atau seremoni tahunan, tetapi bagaimana kita memastikan suara perempuan benar-benar didengar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perjuangan perempuan tidak boleh berhenti pada tataran kebijakan di atas kertas, melainkan harus benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Kita harus memastikan bahwa kebutuhan dan suara perempuan tidak hanya tertulis dalam kebijakan, tetapi benar-benar hadir dan dirasakan oleh perempuan di masyarakat,” tambahnya.
Sally juga menyebut, DPRD Bojonegoro telah mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang kesetaraan gender pada tahun 2025. Ia berharap, perda tersebut menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan di Kabupaten Bojonegoro agar lebih inklusif dan sensitif terhadap kebutuhan perempuan.
“Harapan kami, dengan disahkannya Perda kesetaraan gender, seluruh kebijakan pembangunan di Bojonegoro harus melibatkan perempuan dan peka terhadap kebutuhan mereka,” tegasnya.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa saat ini DPRD juga tengah memprioritaskan pembahasan Perda Perlindungan Perempuan dan Anak yang ditargetkan rampung pada tahun ini.

“Ini adalah bentuk tanggung jawab kami. Saya sebagai representasi perempuan di gedung DPRD tidak hanya hadir sebagai angka, tetapi juga harus mampu menyuarakan kebutuhan perempuan yang benar-benar bermanfaat,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sally juga menyoroti pentingnya edukasi sejak dini untuk mencegah berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan, termasuk pernikahan dini dan kekerasan.
Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui slogan, poster, atau kampanye semata, melainkan harus masuk dalam sistem pendidikan secara menyeluruh.
“Kita harus memberikan edukasi yang komprehensif sejak dini. Anak-anak, terutama perempuan, harus diajarkan bagaimana melindungi diri, memahami tubuh mereka, dan mengetahui cara menghadapi ancaman,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong agar materi perlindungan diri, pencegahan kekerasan, serta bahaya pernikahan dini dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dan diperkuat melalui regulasi daerah.
“Saya berharap ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar masuk dalam kurikulum pendidikan dan juga diperkuat dalam Perda di Bojonegoro,” pungkasnya.
Aksi damai tersebut menjadi penegas bahwa semangat Kartini bukan hanya tentang peringatan, tetapi juga tentang kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam memperjuangkan kesetaraan dan perlindungan perempuan.













