Tanamkan Jiwa Pancasila dan Nasionalisme, Bakesbangpol Bojonegoro Gembleng 140 Anggota Paskibraka

Pemuda Didorong Menjadi Delegasi Nilai-Nilai Kebangsaan dan Cinta Daerah Menjelang HUT Kemerdekaan RI

Uncategorized830 Dilihat
banner 400x130

Newsbojonegoro.com | Bojonegoro — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bojonegoro menggelar kegiatan Pemantapan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bagi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Bojonegoro, Selasa (26/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Bakesbangpol Bojonegoro, Jalan Trunojoyo Nomor 12 tersebut berjalan khidmat dan penuh antusiasme. Sebanyak 140 anggota Paskibraka tampak serius mengikuti setiap materi yang diberikan sebagai bagian dari pembentukan karakter, mental, serta penguatan jiwa nasionalisme generasi muda.

Mengusung tema “Menanamkan Jiwa Pancasila dan Semangat Kebangsaan Bagi Pemuda Menuju Bojonegoro yang Bahagia, Makmur dan Membanggakan,” kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pejabat Bakesbangpol Bojonegoro, pembina dan pelatih Paskibraka, serta narasumber dari kalangan praktisi edukasi lingkungan dan geopark.

Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bojonegoro, Amir Sahid, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa Pancasila hingga hari ini tetap menjadi fondasi utama yang merekatkan keberagaman bangsa Indonesia.

Kepala Bakesbangpol Bojonegoro Amir Sahid saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pemantapan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bagi 140 anggota Paskibraka Kabupaten Bojonegoro di Aula Kantor Bakesbangpol, Selasa (26/5/2026).

“Pancasila ini sudah menjadi ideologi bangsa, menjadi ikatan seluruh bangsa Indonesia terhadap berdiri tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita terdiri dari berbagai pulau, suku bangsa, agama dan latar belakang yang berbeda, namun Pancasila menjadi komitmen bersama sebagai pandangan hidup dan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia,” ujar Amir Sahid.

Menurutnya, pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila harus terus ditanamkan kepada generasi muda agar tidak sekadar menjadi hafalan, namun benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa di era teknologi dan derasnya arus informasi saat ini, masyarakat mulai menghadapi berbagai tantangan sosial seperti lunturnya semangat gotong royong, meningkatnya sikap individualis, minim toleransi, hingga maraknya penyebaran informasi yang belum tentu benar.

“Pembumian Pancasila harus dipahami, dihayati, diamalkan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda adalah agen perubahan dan pemegang estafet masa depan. Kalau tidak memahami sendi-sendi Pancasila, maka bagaimana kita bisa melestarikannya di masa mendatang,” tegasnya.

Amir Sahid juga menyinggung pentingnya menanamkan rasa cinta terhadap daerah sebagai bagian dari membangun nasionalisme. Karena itu, dalam kegiatan tahun ini pihaknya sengaja menghadirkan narasumber dengan materi berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, anggota Paskibraka tidak hanya perlu memahami nilai kebangsaan, tetapi juga harus mengenali sejarah, potensi, dan identitas daerahnya sendiri.

“Kita ingin anak-anak ini mengetahui apa yang ada dan terjadi di Bojonegoro saat ini. Untuk mencintai negara, cintailah daerah kita sendiri terlebih dahulu. Mustahil kita bisa mencintai negara kalau tidak mencintai daerah dan diri kita sendiri,” ungkapnya.

Di akhir sambutannya, Amir berharap seluruh peserta mampu menjadi delegasi nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.

“Dari 140 peserta yang hadir hari ini, saya berharap semuanya bisa menjadi delegasi Pancasilais dan menjadi contoh bagi pemuda-pemuda Bojonegoro dalam mencintai daerah serta Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tandasnya.

Agni Istighfar Kupas Sejarah Geologi Bojonegoro
Hadir sebagai narasumber utama, praktisi lingkungan sekaligus penggerak edukasi Geopark Bojonegoro, Agni Istighfar Paribrata, mengajak peserta untuk memaknai nasionalisme dari sudut pandang yang lebih luas.

Praktisi lingkungan sekaligus penggerak edukasi Geopark Bojonegoro, Agni Istighfar Paribrata, saat memberikan pemaparan mengenai sejarah geologi Bojonegoro dan potensi UNESCO Global Geopark di hadapan 140 anggota Paskibraka dalam kegiatan Pemantapan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Aula Bakesbangpol Bojonegoro, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, rasa cinta tanah air tidak hanya diwujudkan melalui penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa, namun juga melalui kepedulian terhadap kekayaan alam dan warisan geologi daerah.

“Nasionalisme itu tidak melulu soal sejarah perjuangan fisik di masa lalu, tetapi bagaimana kita mengenali, mencintai, dan menjaga apa yang ada di bawah kaki kita hari ini. Mengenal Bojonegoro lebih dalam berarti memahami bahwa daerah ini memiliki warisan peradaban dan kekayaan geologi yang luar biasa,” ujar Agni.

Di hadapan peserta, Agni mengupas sejarah terbentuknya wilayah Bojonegoro dari sudut pandang geologi regional. Ia menjelaskan bahwa jutaan tahun lalu kawasan Bojonegoro merupakan dasar laut dalam yang kemudian terangkat akibat proses tektonik dan pengendapan material purba selama ribuan tahun.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan Bojonegoro memiliki karakter bentang alam yang unik karena diapit dua struktur geologi besar, yakni Pegunungan Kendeng di sisi selatan dan Pegunungan Kapur Utara di bagian utara.

“Di antara dua pegunungan inilah mengalir Sungai Bengawan Solo yang membawa kesuburan bagi wilayah Bojonegoro,” jelasnya.

Tak hanya itu, Agni juga menjelaskan bahwa proses geologi purba tersebut melahirkan fenomena alam langka berupa petroleum system atau jebakan minyak dan gas bumi terdangkal di dunia yang berada di kawasan Wonocolo.

“Di tempat lain minyak dan gas harus dibor hingga ribuan meter di bawah tanah. Namun di Bojonegoro, khususnya kawasan antiklin Wonocolo, minyak dan petroleum gas bisa merembes sangat dekat dengan permukaan hingga dapat diusahakan secara tradisional,” paparnya.

Keunikan tersebut, lanjut Agni, menjadi salah satu faktor penting yang membawa Geopark Nasional Bojonegoro kini melangkah sebagai kandidat UNESCO Global Geopark (UGGp).

Ia menegaskan bahwa tahun ini menjadi momentum krusial karena tim penilai UNESCO dijadwalkan turun langsung ke Wonocolo untuk melakukan asesmen kelayakan sebagai warisan dunia.

“Tahun ini menjadi pembuktian besar kita. Tim UNESCO akan datang langsung melakukan penilaian. Ini momentum emas yang tidak boleh disia-siakan,” tegasnya.

Agni menambahkan, pengakuan internasional tersebut membutuhkan dukungan dan sinergi semua pihak, mulai pemerintah, akademisi, media hingga masyarakat setempat.

“Jika sampai gagal terdaftar, tentu menjadi kerugian sejarah dan investasi kultural yang sangat disayangkan bagi masa depan Bojonegoro. Wonocolo adalah laboratorium alam dunia dan tugas kita hari ini memastikan dunia mengakuinya,” pungkasnya.

Melalui kegiatan tersebut, Bakesbangpol Bojonegoro berharap para anggota Paskibraka tidak hanya siap menjalankan tugas sebagai pengibar bendera pada peringatan HUT Kemerdekaan RI mendatang, tetapi juga mampu menjadi generasi muda yang memiliki karakter kuat, berjiwa nasionalis, serta memahami identitas dan potensi daerahnya sendiri.

Penguatan ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan, hingga pengenalan Geopark Bojonegoro diharapkan dapat menjadi bekal bagi para peserta untuk menjadi agen perubahan di tengah masyarakat sekaligus turut menjaga nilai persatuan, toleransi, dan semangat cinta tanah air di era modern saat ini.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *