NewsBojonegoro.com | Bojonegoro – Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Bojonegoro. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia turut mengumumkan keberhasilan Geopark Bojonegoro lolos sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) baru melalui akun Instagram resmi @kemenpar.ri.
Dalam unggahan tersebut, Kementerian Pariwisata menyampaikan bahwa Bojonegoro berhasil lolos sebagai UNESCO Global Geopark baru. Kabar ini menjadi salah satu pencapaian penting bagi daerah yang selama ini dikenal memiliki kekayaan geologi, sejarah perminyakan, keanekaragaman hayati, serta warisan budaya.
Pengumuman tersebut merujuk pada hasil Sidang Dewan UNESCO Global Geoparks ke-11 yang berlangsung pada 2–4 November 2026 di Paris, Prancis.
Dalam sidang tersebut, pengajuan Geopark Bojonegoro dinyatakan Accepted (diterima) secara unanimous atau disepakati secara bulat oleh seluruh anggota Dewan UNESCO Global Geoparks.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth, menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan rekomendasi Dewan UNESCO Global Geoparks untuk menetapkan Geopark Bojonegoro sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengikuti jalannya sidang secara daring dari Ruang Batik Madrim, Gedung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Dalam proses evaluasi, Dewan UNESCO memberikan apresiasi terhadap keunggulan warisan geologi Bojonegoro, khususnya keunikan struktur tektonik serta sejarah perminyakan atau petroleum history yang memiliki nilai penting dalam kajian geologi dunia.
Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat, sinergi pemerintah daerah dengan berbagai pemangku kepentingan, serta visibilitas dan kualitas pengelolaan kawasan geopark juga menjadi aspek yang mendapatkan perhatian positif.
Geopark Bojonegoro memiliki kekayaan yang merepresentasikan tiga unsur utama, yakni warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya.
Secara keseluruhan, kawasan ini memiliki 20 geosite, 3 biosite, dan 8 cultural site.
Sejumlah lokasi unggulan geologi di antaranya Teksas Wonocolo, Kayangan Api, Kedung Lantung, Antiklin Kawengan, Negeri Atas Angin, Formasi Wonocolo, Formasi Bulu Beji, dan Banyu Kuning.
Sementara kekayaan budaya yang menjadi daya tarik antara lain Kampung Samin dan kesenian tradisional Wayang Thengul.
Keberagaman tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan Geopark Bojonegoro, tidak hanya sebagai kawasan wisata, tetapi juga sebagai sarana edukasi, penelitian, konservasi, serta pemberdayaan masyarakat.
Meski telah memperoleh persetujuan bulat dari Dewan UNESCO Global Geoparks, proses menuju pengesahan akhir masih harus mengikuti mekanisme UNESCO.
Sebagaimana diberitakan JagatSembilan.com pada 3 November 2026, Kepala Bappeda Bojonegoro, Helmy Elisabeth, menjelaskan bahwa Geopark Bojonegoro belum resmi menyandang status UNESCO Global Geopark sebelum memperoleh sertifikat atau pengesahan dari UNESCO.
Penyerahan sertifikat tersebut direncanakan berlangsung pada 2027.
Dengan hasil sidang tersebut, Geopark Bojonegoro telah melewati salah satu tahapan penting dalam upaya memperoleh pengakuan internasional.
Pencapaian ini sekaligus menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestarian warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya daerah.
Lebih dari sekadar pengakuan internasional, keberhasilan tersebut diharapkan mampu membuka peluang pengembangan pariwisata berkelanjutan, memperkuat ekonomi masyarakat, serta membawa nama Bojonegoro semakin dikenal di tingkat dunia.
















