NewsBojonegoro.com – Suasana hangat dan penuh keakraban tampak di sebuah warung serabi sederhana milik Siti Kusmiati di Dusun Bendo, Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro. Di tempat yang dikenal dengan sebutan Warung Jongkong itu, Ketua Komnas HAM RI, Anis Hidayah, menyempatkan diri duduk bersama warga sambil menikmati serabi dan ketan.
Tanpa pengawalan khusus maupun kesan formal, Anis tampil sederhana dan membaur dengan masyarakat. Ia berbincang santai menggunakan bahasa Jawa sehari-hari, menciptakan suasana akrab layaknya pertemuan keluarga. Kehadirannya disambut hangat oleh warga sekitar yang tampak antusias menyapa sosok putri daerah yang kini dikenal di tingkat nasional.
Salah satu warga yang hadir, Waris, pengusaha toko bangunan setempat, mengenang sosok orang tua Anis yang telah lama ia kenal.
Menurutnya, Anis merupakan putri dari almarhum H. Rokani dan Ibu Siwat, dua figur yang dikenal sebagai pejuang di bidang agama dan pendidikan.
“Bapaknya lembut dan peduli, sementara ibunya dikenal tegas dan disiplin. Dari situlah anak-anaknya ditempa,” ujar Waris.
Ia menilai, nilai keteladanan kedua orang tua tersebut menjadi fondasi kuat bagi kesuksesan anak-anaknya.
“Semuanya berhasil, tapi tetap rendah hati,” tambahnya.
Kesaksian Warga dan Sahabat Lama
Kesaksian serupa juga disampaikan Sulis, pensiunan dokter PNS yang mengenal dekat almarhumah Ibu Siwat. Ia menyebut sosok tersebut dikenal ramah dan gemar bersilaturahmi.
“Beliau sering datang ke rumah hanya untuk ngobrol, meski tidak sedang sakit,” kenangnya.
Sementara itu, pemilik warung, Siti Kusmiati, menuturkan bahwa wajah Anis sangat mirip dengan sang ibu.
“Kalau dilihat, mirip sekali dengan Bu Siwat,” ucapnya.
Ia juga mengenang masa lalu saat mengikuti pengajian yang diasuh oleh H. Rokani dan Ibu Siwat, yang dikenal disiplin, sederhana, dan dekat dengan masyarakat.
Perhatian pada Junior Sejak Bangku Kuliah
Nursamsi, tetangga sekaligus adik kelas Anis di Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember, turut membagikan pengalamannya.
“Bagi saya, Mbak Anis seperti kakak sendiri. Beliau baik, disiplin, dan peduli,” tuturnya.
Ia mengingat bagaimana Anis membantunya saat awal kuliah, termasuk mencarikan tempat kos dan membimbing para junior.
“Beliau selalu memperhatikan yunior-yuniornya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Anis menjelaskan bahwa kedatangannya ke Bojonegoro bertujuan utama untuk berziarah ke makam orang tuanya. Ia juga baru saja menghadiri agenda penandatanganan nota kesepahaman antara Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dengan Universitas Negeri Surabaya.
“Awalnya hanya mau ziarah lalu pulang. Tapi karena banyak yang mengajak ngobrol, ya akhirnya lama,” katanya sambil tersenyum.
Anis juga mengungkapkan bahwa dirinya merupakan tiga bersaudara, dengan anggota keluarga yang kini tinggal di Yogyakarta dan Jakarta.
Simbol Kedekatan Pemimpin dengan Rakyat
Pertemuan sederhana di warung serabi tersebut menjadi gambaran bahwa kedekatan antara tokoh nasional dan masyarakat tidak selalu terbangun melalui forum resmi. Justru, dari ruang-ruang kecil yang penuh kehangatan, kenangan, dan keteladanan, nilai kebersamaan tumbuh secara alami.
Bagi warga Kedungadem, momen itu menjadi bukti bahwa Anis Hidayah tetap menjaga akar sosialnya sebagai putri Bojonegoro, meski kini mengemban amanah di tingkat nasional.
















