NewsBojonegoro.com | Bojonegoro – DPD Partai Golkar Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan. Sebanyak 30.000 liter air bersih telah disalurkan ke tiga desa yang mengalami krisis air.
Bantuan tersebut masing-masing berupa satu tangki berkapasitas 6.000 liter. Penyaluran dilakukan di Desa Telatah, Kecamatan Purwosari, Desa Ngamongan, Kecamatan Tambakrejo, serta Desa Ngerejeng, Kecamatan Purwosari.
Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bojonegoro, Ahmad Supriyanto, mengatakan penyaluran air bersih merupakan bentuk kepedulian partainya terhadap masyarakat yang membutuhkan, khususnya di wilayah yang terdampak kekeringan.
Menurutnya, bantuan air bersih menjadi langkah konkret untuk meringankan kebutuhan warga selama musim kemarau. Namun, persoalan kekeringan yang berulang setiap tahun juga membutuhkan penanganan yang lebih terencana dan berkelanjutan.
“Yang dilakukan hari ini adalah jangka pendek. Pemerintah harus segera mengambil langkah jangka panjang maupun menengah terkait kemarau atau kekeringan, karena ini bencana tahunan,” ujar Ahmad Supriyanto, Kamis (24/9/2026).
Politisi yang akrab disapa Mas Pri itu mendorong pemerintah daerah melakukan pemetaan terhadap desa-desa yang setiap tahun mengalami kekeringan. Hasil pemetaan tersebut, kata dia, dapat menjadi dasar dalam menentukan pembangunan infrastruktur dan penyediaan sumber air sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
“Pemerintah harus mulai memetakan desa-desa atau wilayah-wilayah yang kekeringan, kemudian dicarikan solusi seperti perluasan jaringan PDAM, memaksimalkan atau memasifkan pembuatan sumur-sumur bor di wilayah-wilayah itu, atau memaksimalkan air Bengawan Solo untuk difiltrasi menjadi air bersih,” jelasnya.
Komitmen membantu masyarakat juga akan dilanjutkan. Pada Jumat (25/9/2026), DPD Partai Golkar Bojonegoro dijadwalkan kembali menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Somodikaran, Kecamatan Dander. Bantuan tersebut telah dikonfirmasi untuk warga RT 07/RW 01.
Mas Pri menegaskan, Golkar Bojonegoro siap merespons kebutuhan masyarakat apabila masih terdapat wilayah lain yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
“Kalau masih ada masyarakat yang membutuhkan, kami siap berkoordinasi dan membantu menyalurkan air bersih sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan,” katanya.
Menurutnya, penanganan kekeringan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, partai politik, dunia usaha, dan elemen masyarakat lainnya perlu terus diperkuat.
“Pada prinsipnya kami mendorong untuk saling kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, organisasi-organisasi yang ada,” ujarnya.
Di tengah penanganan kekeringan, Ahmad Suprianto juga mengingatkan Pemkab Bojonegoro agar mulai mempersiapkan potensi bencana banjir menjelang musim penghujan. Menurutnya, kedua persoalan tersebut merupakan bencana musiman yang membutuhkan langkah mitigasi sejak dini.
“Di situasi kekeringan ini, Bojonegoro juga punya bencana musiman yaitu banjir. Mulai hari ini kita tidak boleh lupa, setiap musim hujan itu ada banjir,” tegasnya.
Ia berharap OPD terkait mulai melakukan berbagai persiapan, termasuk memastikan kondisi tanggul dan infrastruktur pengendali banjir di wilayah yang membutuhkan perhatian.
“Pemerintah jangan hanya melakukan hal-hal yang sifatnya jangka pendek, tetapi juga harus melakukan langkah-langkah atau upaya-upaya jangka panjang terkait penanganan bencana, baik itu kekeringan maupun banjir,” pungkasnya.





















