Wabup Nurul Azizah Pastikan Kerja Sama UB di Bojonegoro Tak Tumpang Tindih dengan PTS Lokal

Pendidikan10 Dilihat
banner 400x130

NewsBojonegro.com | Bojonegoro – Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menegaskan rencana kerja sama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dengan Universitas Brawijaya (UB) melalui program pendidikan di luar kampus utama (PSDKU) diarahkan pada program studi yang belum tersedia di perguruan tinggi setempat.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat sekaligus menghindari potensi persinggungan dengan program studi yang telah dikembangkan perguruan tinggi swasta (PTS) di Bojonegoro.

Penjelasan itu disampaikan Nurul Azizah saat menghadiri acara Wisuda Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) di Hotel Dewarna, Bojonegoro, Rabu (14/10/2026). Pernyataannya sekaligus merespons kekhawatiran kalangan perguruan tinggi mengenai potensi persaingan apabila Universitas Brawijaya membuka program studi yang sama dengan kampus lokal.

“Kerja sama dengan Universitas Brawijaya adalah pada program studi yang tidak bersinggungan dan yang tidak ada di Bojonegoro. Jadi, itu sudah terpikirkan,” ujar Nurul Azizah.

Menurutnya, Pemkab Bojonegoro telah mempertimbangkan kesesuaian program studi sebelum menjajaki kerja sama dengan perguruan tinggi negeri tersebut. Pertimbangan itu didasarkan pada pengamatan terhadap daerah lain yang memiliki perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Ia menilai program studi yang beririsan berpotensi menimbulkan dampak terhadap perguruan tinggi swasta yang telah lebih dahulu berkembang di daerah. Karena itu, pemetaan kebutuhan pendidikan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam rencana pengembangan PSDKU di Bojonegoro.

Program Studi Disesuaikan dengan Kebutuhan Daerah

Nurul Azizah mengungkapkan, pembahasan mengenai program studi yang akan dikembangkan telah dilakukan bersama Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, saat berkunjung ke Bojonegoro.

Dalam pembahasan tersebut, program studi yang belum tersedia di perguruan tinggi setempat menjadi salah satu pertimbangan utama. Beberapa bidang yang disebut dalam sambutannya antara lain aktuaria, Teknologi Industri Pertanian, dan Hubungan Internasional (HI).

Sementara itu, ketersediaan program studi lain, seperti kedokteran dan psikologi, masih perlu dipastikan agar tidak terjadi tumpang tindih dengan program pendidikan yang sudah ada.

“Pak Prof. Widodo, Rektor Unibraw, waktu ke sini menyampaikan, kira-kira mana yang tidak ada di antara program studi di PTS. Jadi, untuk sementara kita diskusikan jurusan yang memang belum ada,” jelas mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro tersebut.

Ia menambahkan, mekanisme penerimaan mahasiswa pada program yang direncanakan akan mengikuti ketentuan nasional yang berlaku. Dengan demikian, penentuan program studi maupun kuota mahasiswa perlu disesuaikan dengan mekanisme penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Berharap Perguruan Tinggi Lokal Ikut Berkembang

Lebih lanjut, Nurul Azizah berharap kehadiran Universitas Brawijaya di Bojonegoro nantinya dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan perguruan tinggi lokal, termasuk Unugiri.

Menurutnya, kehadiran perguruan tinggi negeri berpotensi menarik mahasiswa dari luar daerah untuk menempuh pendidikan di Bojonegoro. Peningkatan jumlah mahasiswa tersebut diharapkan turut menggerakkan ekosistem pendidikan tinggi dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Dalam konteks itu, kampus-kampus lokal diharapkan dapat memanfaatkan meningkatnya minat masyarakat untuk kuliah di Bojonegoro dengan menawarkan program studi sesuai kebutuhan, minat calon mahasiswa, serta kapasitas penerimaan masing-masing perguruan tinggi.

Nurul Azizah juga menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan Unugiri. Ia berharap jumlah mahasiswa kampus tersebut yang saat ini sekitar 6.000 orang dapat meningkat menjadi 10.000 mahasiswa pada masa mendatang.

“Kalau hari ini Unugiri 6.000 mahasiswa, insyaallah yang akan datang menjadi 10.000,” ungkapnya.

Harapan tersebut sejalan dengan upaya membangun ekosistem pendidikan tinggi yang saling menguatkan. Perluasan akses melalui kerja sama dengan perguruan tinggi negeri diharapkan berjalan beriringan dengan pengembangan kampus-kampus yang telah tumbuh di Bojonegoro.

Pendidikan Tinggi Jadi Bagian Pengembangan Daerah

Nurul Azizah juga menyebut Universitas Brawijaya telah memiliki program pendidikan di luar kampus utama di Jakarta dan Kediri. Ia berharap Bojonegoro dapat menjadi lokasi berikutnya melalui kerja sama yang sedang dibahas.

Menurutnya, pengembangan daerah perlu didukung pendekatan yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan sektor pariwisata. Bojonegoro memiliki sejumlah destinasi yang telah dikenal masyarakat, antara lain kawasan minyak dan gas bumi Wonocolo, Kayangan Api, serta berbagai wisata alam lainnya.

Karena itu, penguatan sektor pendidikan tinggi diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan daerah sekaligus memperluas kesempatan masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka.

Rencana kerja sama tersebut masih memerlukan pembahasan dan pemetaan program studi yang tepat. Dialog dengan pengelola perguruan tinggi setempat juga menjadi bagian penting agar pengembangan PSDKU Universitas Brawijaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan PTS lokal.

Dengan demikian, kerja sama yang direncanakan diharapkan tidak hanya memperluas pilihan pendidikan tinggi bagi masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekosistem pendidikan di Bojonegoro secara berkelanjutan. (Red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *