NewsBojonegoro.com | Bojonegoro – Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengungkapkan rencana besar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk menggandeng Universitas Brawijaya (UB) dalam menghadirkan Program Studi Fakultas Kedokteran di Bojonegoro. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang membangun sumber daya manusia (SDM) unggul sekaligus mewujudkan Bojonegoro sebagai pusat layanan kesehatan di wilayah barat Jawa Timur.
Rencana tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Wakil Bupati Nurul Azizah telah menjalin komunikasi dan melakukan penjajakan kerja sama dengan Universitas Brawijaya terkait pengembangan pendidikan tinggi di Bojonegoro, termasuk pembukaan Program Studi Fakultas Kedokteran.
Pernyataan itu disampaikan Setyo Wahono saat menghadiri Media Gathering yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Bojonegoro bertajuk “Komunikasi Publik yang Adaptif di Era Digital: Membangun Kepercayaan Masyarakat Terhadap Pemerintah” di Pendopo Malowopati Bojonegoro, Rabu (22/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Asisten I, II dan III Sekretariat Daerah, Kepala Dinkominfo Bojonegoro Arif Afandy, Direktur RSUD dr. Sosodoro Djatikoesoemo, para direktur BUMD, kepala OPD, serta puluhan jurnalis dari media cetak, elektronik, televisi, dan media siber.
Dalam paparannya, Setyo Wahono menegaskan bahwa kerja sama dengan Universitas Brawijaya bukan untuk menghadirkan pesaing bagi perguruan tinggi yang telah berdiri di Bojonegoro, melainkan melengkapi kebutuhan pendidikan tinggi yang selama ini belum tersedia.
“Saya tidak ingin mencarikan pesaing untuk universitas yang sudah ada di Bojonegoro. Oleh karena itu saya menggandeng Universitas Brawijaya untuk menghadirkan Program Studi Fakultas Kedokteran,” ujar Setyo Wahono.
Menurutnya, keberadaan fakultas kedokteran akan menjadi investasi jangka panjang dalam mencetak dokter dan dokter spesialis yang berasal dari Bojonegoro maupun daerah sekitarnya.
“Harapan kami ke depan Bojonegoro memiliki SDM yang tinggi dengan dokter-dokter spesialis,” katanya.
Ia menjelaskan, saat ini masyarakat Bojonegoro masih bergantung pada rumah sakit di luar daerah untuk memperoleh pelayanan medis spesialis.
“Kalau ada pasien patah tulang pasti larinya ke Solo. Kalau sakit jantung larinya ke Surabaya. Harapan kami ke depan Bojonegoro menjadi kota tujuan pelayanan kesehatan seperti itu,” ungkapnya.
Menurut Setyo Wahono, cita-cita tersebut bukan tanpa dasar. RSUD dr. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro kini telah dilengkapi berbagai fasilitas kesehatan modern, termasuk peralatan canggih untuk penanganan penyakit jantung.
Bahkan, pelayanan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tersebut mulai dipercaya masyarakat dari luar daerah.
“Kemarin ada warga Tuban yang mengalami sakit jantung dan berobat ke RSUD Sosodoro. Ini menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan kita mulai dipercaya. Ke depan harapan kami Bojonegoro benar-benar menjadi kota tujuan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Selain memaparkan arah pembangunan sektor pendidikan dan kesehatan, Setyo Wahono juga menegaskan pentingnya membangun komunikasi publik yang adaptif melalui kemitraan dengan insan pers. Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan program pembangunan, menyerap aspirasi masyarakat, sekaligus memberikan edukasi kepada publik.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan media untuk menyampaikan program-program pembangunan, menyerap aspirasi masyarakat, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. Mari kita bangun komunikasi yang adaptif dan solutif,” katanya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah dan media mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
“Dengan sinergitas yang kita bangun, sehingga kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin baik,” tegasnya.
Baca Juga: Audiensi Gabungan DPRD Bojonegoro, Kades Ngelo Pertanyakan Keberadaan 866 Pohon Jati
Bupati juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menginstruksikan seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar menjadikan media sebagai mitra dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Kami selaku pimpinan daerah sudah memberikan arahan kepada seluruh kepala OPD bahwa rekan-rekan media adalah sahabat dan mitra kita. Oleh karenanya agar menjawab sesuai kemampuan apabila ada pertanyaan dari media,” tuturnya.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Setyo Wahono mengingatkan bahwa setiap informasi yang disampaikan kepada publik harus berbasis data dan fakta karena memiliki konsekuensi apabila tidak benar.
“Sebab jika informasi yang disampaikan itu tidak benar pasti ada konsekuensinya. Berikan informasi yang berbasis data dan apa adanya kepada masyarakat, karena media harus mampu memberikan edukasi yang sebaik-baiknya,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinkominfo Bojonegoro Arif Afandy mengatakan media merupakan mitra strategis pemerintah dalam membangun komunikasi publik yang adaptif, transparan, dan akurat.
Menurutnya, sinergi dengan media sangat penting untuk menangkal hoaks, membangun narasi positif pembangunan, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Sinergi dengan media ini penting untuk menangkal hoaks, membangun narasi positif pembangunan, serta menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat,” ujar Arif.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan pers yang selama ini turut mengawal pembangunan di Kabupaten Bojonegoro.
“Terima kasih atas kehadiran dan kepedulian rekan-rekan media yang sudah meluangkan waktunya untuk hadir dalam kegiatan media gathering yang diselenggarakan Pemkab Bojonegoro,” pungkasnya.
Dengan penguatan sektor pendidikan melalui kerja sama dengan Universitas Brawijaya, didukung peningkatan fasilitas kesehatan di RSUD dr. Sosodoro Djatikoesoemo serta sinergi komunikasi publik bersama insan media, Pemkab Bojonegoro berharap mampu mencetak SDM unggul dan mewujudkan Bojonegoro sebagai salah satu pusat pendidikan serta rujukan layanan kesehatan di Jawa Timur.




















