NewsBojonegoro.com | Bojonegoro — Komisi D DPRD Kabupaten Bojonegoro melakukan pemantauan di sejumlah titik pembangunan infrastruktur di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Salah satunya pembangunan Pasar Kota Bojonegoro yang menelan anggaran sekitar Rp80 miliar. Jumat (4/9/2026).
Proyek pembangunan Pasar Kota Bojonegoro yang memakan anggaran sebesar Rp80,036 miliar. Di kerjaka oleh PT Tiara Multi Teknik asal Surabaya
Pemantauan dilakukan untuk memastikan progres pekerjaan berjalan sesuai jadwal sekaligus menjaga kualitas pembangunan. Komisi D juga memberikan sejumlah catatan kepada pihak pelaksana, mulai dari pekerjaan struktur, pemasangan tiang pancang, hingga keterlibatan tenaga kerja lokal.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Bojonegoro, Sukur Priyanto, mengatakan, untuk pembangunan Pasar Kota Bojonegoro, pihaknya melihat langsung progres pekerjaan yang saat ini telah menyelesaikan tahap pembersihan atau pembongkaran kawasan.
“Agenda yang pertama melihat, memantau, memonitor kegiatan pembangunan pasar. Hari ini baru selesai proses pembersihan atau pembongkaran dan memasuki persiapan pemasangan tiang pancang,” ujar Sukur.
Menurutnya, mulai saat ini hingga sekitar satu bulan ke depan, pekerjaan akan difokuskan pada finalisasi pemasangan tiang pancang. Jumlah pancang yang akan dipasang kurang lebih mencapai 900 titik, pada lahan sekitar 1,5 hingga 1,8 hektare.
“Jadi sampai satu bulan ke depan fokusnya pemasangan pancang, kurang lebih sekitar 900, pada lahan sekitar 1,5 sampai 1,8 hektare,” jelasnya.
Baca Juga: Komisi A Bahas TKD Temayang, 21 Rumah Warga hingga Kantor Kecamatan Masuk Rencana Penertiban
Sukur menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap progres pembangunan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai jadwal.
“Harapannya yang pertama memastikan setiap tahap, setiap minggu kegiatan itu on schedule, jadi tidak terjadi minus pengerjaan,” katanya.
Ia menyebut, pekerjaan struktur ditargetkan selesai pada akhir November. Karena itu, pengawasan tidak hanya berkaitan dengan kecepatan pengerjaan, tetapi juga kualitas konstruksi.
“Pekerjaan struktur itu akan selesai di akhir November. Memastikan bahwa semua dikerjakan selain menjaga kualitas di tingkatan pancang dan pondasi, ini juga on schedule,” imbuhnya.
Dorong Pelibatan Tenaga Kerja Lokal
Selain progres dan kualitas pekerjaan, Komisi D juga memberikan perhatian terhadap keterlibatan masyarakat lokal dalam pembangunan.
Sukur berharap kegiatan pembangunan yang memungkinkan untuk melibatkan masyarakat Bojonegoro dapat memberikan kesempatan kepada warga setempat. Tidak hanya tenaga ahli, tetapi juga pekerja kasar, tukang dan tenaga pendukung lainnya.
“Pada kegiatan-kegiatan yang bisa melibatkan masyarakat lokal, diberikan kesempatan. Termasuk di dalamnya pekerja kasar, tukang juga diberikan kesempatan untuk ambil bagian kerja di situ,” ungkapnya.
Menurut Sukur, dorongan agar tenaga kerja lokal dilibatkan sebenarnya sudah menjadi bahan diskusi sejak awal. Hal tersebut dinilai penting karena pembangunan Pasar Kota Bojonegoro merupakan proyek besar dengan anggaran daerah yang cukup signifikan.
Ia berharap masyarakat Bojonegoro dapat memperoleh manfaat langsung dari proses pembangunan tersebut, meskipun tidak seluruh kebutuhan tenaga kerja nantinya dapat dipenuhi dari warga lokal.
Sukur juga menyoroti konsep pembangunan Pasar Kota Bojonegoro. Menurutnya, pasar yang dibangun tidak sekadar menjadi tempat transaksi tradisional, tetapi dirancang dengan konsep semi-modern.
Salah satu fasilitas yang akan tersedia adalah eskalator di empat titik. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi pedagang maupun pembeli ketika beraktivitas di dalam pasar.
“Pasar-pasar yang kita bangun ini memang semi-modern. Akan ada eskalator di empat titik. Jadi untuk naik turunnya menggunakan eskalator,” jelasnya.
Dengan konsep tersebut, ia berharap Pasar Kota Bojonegoro nantinya mampu memberikan kenyamanan sekaligus menarik lebih banyak masyarakat untuk datang dan bertransaksi.
“Memberikan harapan kemudahan kepada para penjual dan pembeli untuk transaksi di situ. Jadi semi-modern, seperti mall dan pasar modern juga,” imbuhnya.
Menurutnya, konsep tersebut diharapkan menjadi salah satu daya tarik sehingga Pasar Kota tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga mampu menghidupkan aktivitas perdagangan setelah selesai dibangun.
Dalam pemantauan infrastruktur lainnya, Komisi D juga memberikan catatan terhadap pekerjaan pelebaran jalan, salah satunya di wilayah Kecamatan Purwosari.

Sukur menilai pekerjaan pelebaran jalan perlu memperhatikan kekuatan struktur bagian bawah. Terlebih, pekerjaan tersebut memiliki panjang yang cukup signifikan.
“Kalau pelebaran jalan itu karena panjangnya cukup panjang, sekitar 5 kilometer, untuk memperkuat struktur di bawahnya,” ujarnya.
Menurutnya, sebelum pekerjaan ditutup atau dilakukan pengerasan, bagian bawah harus dipadatkan secara optimal. Hal ini penting untuk mencegah kerusakan pada bagian jalan yang baru dilebarkan.
Ia menjelaskan, pekerjaan pelebaran jalan memiliki potensi persoalan pada titik pertemuan antara jalan lama dengan tambahan jalan baru apabila struktur bawahnya tidak dipersiapkan dengan baik.
“Biasanya kalau pelebaran jalan itu antara Sambungan dengan jalan yang lama kan mudah patah,” jelasnya.
Karena itu, Komisi D meminta aspek pemadatan dan kekuatan struktur menjadi perhatian dalam pekerjaan pelebaran jalan. Pengawasan kualitas dinilai sama pentingnya dengan memastikan proyek selesai sesuai jadwal.
Pemantauan sejumlah proyek tersebut menjadi bagian dari fungsi pengawasan Komisi D DPRD Bojonegoro terhadap pembangunan infrastruktur daerah, agar setiap pekerjaan yang menggunakan anggaran publik dapat berjalan sesuai perencanaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

















