NewsBojonegoro.com — Pengukuhan Pengurus Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Bojonegoro masa khidmat 2025–2030 di Gedung DPRD Bojonegoro bukan sekadar seremoni organisasi keagamaan. Kehadiran ratusan jamaah dari berbagai kecamatan, lengkap dengan nuansa khidmat yang memenuhi ruang paripurna, memperlihatkan satu hal: gerakan dakwah perempuan di Bojonegoro telah memasuki fase baru yang lebih terstruktur dan berpengaruh.
Penandatanganan SK dan pengibaran bendera pataka menjadi simbol perpindahan amanah yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mengandung makna regenerasi peran perempuan dalam ruang sosial-keagamaan.
Masuknya dua tokoh perempuan dari unsur pimpinan DPRD—Siti Juariyah, S.HI dan Nur Faizah, Amd.Keb—menguatkan sinyal bahwa BKMT kini menjadi wadah strategis yang mendapat perhatian serius dari jajaran legislatif.
Hadir pula sejumlah tokoh penting, termasuk Ibu Cantika Wahono dan Hj. Mitro’atin, figur yang selama ini melekat dengan pergerakan perempuan Bojonegoro. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai tamu undangan, namun menjadi representasi nyata bahwa dakwah perempuan telah menjadi bagian dari pembicaraan pembangunan daerah.
Dalam sambutannya, Ketua BKMT yang baru dikukuhkan, Hj. Mitroatin, S.Pd, menyampaikan arah pergerakan organisasi ke depan. Ucapannya mencerminkan visi yang lebih inklusif dan kolaboratif.
“Insyaallah BKMT siap bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemkab, Kementerian Agama, serta seluruh ormas. Kami ingin memperkuat dakwah sekaligus mendukung program-program pemerintah daerah,” ujarnya. Sabtu (29/11/2025).
Pernyataan tersebut menjadi indikasi bahwa BKMT tidak hanya ingin menjadi ruang silaturahmi spiritual, tetapi juga pusat penguatan kapasitas perempuan melalui berbagai program: penguatan majelis taklim di tingkat desa, pelatihan ekonomi kreatif, pendidikan keagamaan berkelanjutan, hingga program sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Nuansa kebersamaan tampak kuat dalam balutan busana muslim dengan aksen batik Bojonegoro yang dikenakan para jamaah. Identitas lokal yang begitu menonjol menegaskan bahwa BKMT bukan sekadar organisasi, tetapi rumah besar yang merangkul perempuan dari berbagai latar sosial. Keakraban yang terbangun dalam sesi foto bersama memperlihatkan bahwa semangat persaudaraan menjadi modal penting bagi gerakan dakwah perempuan di Bojonegoro.
Selepas pengukuhan, workshop dan konsolidasi program kerja digelar sebagai langkah awal merumuskan strategi dakwah lima tahun ke depan. Langkah ini menunjukkan bahwa BKMT ingin bergerak dengan peta jalan yang jelas, terukur, dan berdampak.
Acara berakhir pukul 12.15 WIB dengan doa bersama, namun bagi BKMT Bojonegoro, hari itu justru menjadi titik mula. Pengukuhan tersebut menjadi penanda bahwa perempuan Bojonegoro semakin mengambil peran strategis dalam pembangunan sosial, pendidikan keagamaan, dan penguatan nilai moral di tengah masyarakat. Sebuah perjalanan panjang baru saja dimulai, dengan para srikandi dakwah berdiri di garis terdepan.






























































